Pencahayaan yang
terhalang berarti atmosfer di dekat kutub cukup stabil, dengan udara yang cukup
hangat dan dingin di atmosfer yang lebih rendah, untuk menimbulkan badai. Hilangnya
es laut melintasi Arktik yang menyebabkan suhu permukaan laut yang jauh di atas
rata-rata untuk tahun ini, yang mungkin menjadi kontributor masa udara yang
tidak stabil didorong di sepanjang Arktik pusat.
Sebagian besar badai
bumi terjadi di garis lintang, di mana kombinasi suhu dan kelembaban yang lebih
tinggi lebih mudah memicu ponomena cuaca seperti itu. Namun, karena alaska dan
bagian lain dari Arktik telah menghangat sebagai respons terhadap perubahan
iklim global yang disebabkan oleh manusia, ada bukti bahwa badai mulai terjadi pada
awal tahun dan semakin luas karena tidak terbiasa dengan peristiwa semacam itu,
seperti sebagai lereng utara alaska.[1]
Dengan adanya
perubahan suhu dan kelembapan hal ini dapat mempengaruhi tekanan dalam skala
luas. Jika Anda memahami sifat tiba-tiba dalam perubahan iklim yang tiba-tiba,
ini mengejutkan, tetapi sayangnya tidak mengejutkan. Membentuk pembusukan cepat
dari permafrost tanah di rak arktik siberia timur, mencairnya Greenland,
melemahnya Antartika dan mengakibatkan percepatan kenaikan permukaan laut
2010-2030.
"Gelombang panas
di bulan Juli di Eropa menyebabkan es di Greenland mencair dengan kecepatan
yang tidak diperkirakan oleh para ilmuwan selama 50 tahun. Lapisan es di
Greenland kehilangan 55 miliar ton air selama lima hari pada bulan Juli dan
Agustus."[2]
Selain percepatan
kenaikan permukaan laut, suhu permukaan global bumi juga pada tahun 2018 adalah
yang terpanas keempat sejak pencatatan modern dimulai pada tahun 1880, menurut
sebuah analisis oleh NASA.
Suhu global pada tahun
2018 adalah 1,5 derajat Fahrenheit (0,83 derajat Celcius) lebih hangat daripada
rata-rata 1951 hingga 1980, menurut para ilmuwan di Institut Studi Antariksa
(GISS) Goddard NASA di New York. Secara global, suhu tahun 2018 berada di belakang
suhu tahun 2016, 2017 dan 2015. Lima tahun terakhir secara kolektif adalah
tahun terhangat dalam catatan modern. [3]
Co2 yang berlebih disebabkan
aktivitas manusia sehari-hari,
pembakaran bahn bakar fosil dan pembukaan hutan telah meningkatkan kosentrsi
karbondioksida di atmosfer. Berbagai efek telah ditimbulkan akibat meningkatnya
kosentrasi CO 2 lingkungan seperti efek rumah kaca dan perubahan pola iklim.[4]
Akibat dari kosentrasi CO 2 yang berlebih menyebabkan Ocean Acidification atau pengasaman
laut. OA adalah peristiwa berkurangnya
kadah PH air laut akibat meningkatnya jumlah karbon doksida (CO2) yang diserah
oleh laut. PH kadar laut umumya berkadar apabila berkurang atau bertambah akan mempengaruhi ekosistem
yang ada. [5]
Dampak bagi biota laut, bisa merusak
keseimbangan rantai makanan di laut. Air laut yang semakin asam menjadikannya
lebih korosif sehingga mampu melarutkan cangkang, melemahkan pertumbuhan hewan
laut dan terumbu karang beserta kutaan spesies hewan laut yang bergantung
kepadanya.
Mari kita cpba visualisasikan apa
yang akan terjadi jika hal ini tidak bisa kita (manusia) cegah.
1.
Keadaaan bumi
semakin panas.
2.
Kekeringan yang
meluas. Karena, keadaan bumi yang semakin panas. Hal ini menyebabkan beberapa
tingkat evaporasi yang semakin tinggi, menyebabkan tingkat kekeringan yang
semakin tinggi.
3. Tinggi permukaan laut
yang terus naik, akibat dari percairan es di Greenland dan kutub. Hal ini bisa
menghilangkan negara-negara dengan mdpl yang rendah.
4. Krsisi pangan. Akibat dari kekeringan yang panjang, sertor
agro akan terus mengalami gagal panen. Dan makanan menjadi bahan yang langka. Dan
menyebabkan kelaparan diseluruh dunia.
Antartika, Greenland dan Kita
Reviewed by Mildisrup
on
August 20, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
August 20, 2019
Rating:


No comments: