Antartika, Greenland dan Kita - Mildisrup

Antartika, Greenland dan Kita


Greenland. Sumber : Pixbay.com


Pencahayaan yang terhalang berarti atmosfer di dekat kutub cukup stabil, dengan udara yang cukup hangat dan dingin di atmosfer yang lebih rendah, untuk menimbulkan badai. Hilangnya es laut melintasi Arktik yang menyebabkan suhu permukaan laut yang jauh di atas rata-rata untuk tahun ini, yang mungkin menjadi kontributor masa udara yang tidak stabil didorong di sepanjang Arktik pusat.

Sebagian besar badai bumi terjadi di garis lintang, di mana kombinasi suhu dan kelembaban yang lebih tinggi lebih mudah memicu ponomena cuaca seperti itu. Namun, karena alaska dan bagian lain dari Arktik telah menghangat sebagai respons terhadap perubahan iklim global yang disebabkan oleh manusia, ada bukti bahwa badai mulai terjadi pada awal tahun dan semakin luas karena tidak terbiasa dengan peristiwa semacam itu, seperti sebagai lereng utara alaska.[1]

Dengan adanya perubahan suhu dan kelembapan hal ini dapat mempengaruhi tekanan dalam skala luas. Jika Anda memahami sifat tiba-tiba dalam perubahan iklim yang tiba-tiba, ini mengejutkan, tetapi sayangnya tidak mengejutkan. Membentuk pembusukan cepat dari permafrost tanah di rak arktik siberia timur, mencairnya Greenland, melemahnya Antartika dan mengakibatkan percepatan kenaikan permukaan laut 2010-2030.

"Gelombang panas di bulan Juli di Eropa menyebabkan es di Greenland mencair dengan kecepatan yang tidak diperkirakan oleh para ilmuwan selama 50 tahun. Lapisan es di Greenland kehilangan 55 miliar ton air selama lima hari pada bulan Juli dan Agustus."[2]

Selain percepatan kenaikan permukaan laut, suhu permukaan global bumi juga pada tahun 2018 adalah yang terpanas keempat sejak pencatatan modern dimulai pada tahun 1880, menurut sebuah analisis oleh NASA.

Suhu global pada tahun 2018 adalah 1,5 derajat Fahrenheit (0,83 derajat Celcius) lebih hangat daripada rata-rata 1951 hingga 1980, menurut para ilmuwan di Institut Studi Antariksa (GISS) Goddard NASA di New York. Secara global, suhu tahun 2018 berada di belakang suhu tahun 2016, 2017 dan 2015. Lima tahun terakhir secara kolektif adalah tahun terhangat dalam catatan modern. [3]
Co2 yang berlebih disebabkan aktivitas manusia sehari-hari, pembakaran bahn bakar fosil dan pembukaan hutan telah meningkatkan kosentrsi karbondioksida di atmosfer. Berbagai efek telah ditimbulkan akibat meningkatnya kosentrasi CO 2 lingkungan seperti efek rumah kaca dan perubahan pola iklim.[4]

Akibat dari kosentrasi CO 2 yang berlebih menyebabkan Ocean Acidification atau pengasaman laut.  OA adalah peristiwa berkurangnya kadah PH air laut akibat meningkatnya jumlah karbon doksida (CO2) yang diserah oleh laut. PH kadar laut umumya berkadar apabila berkurang atau bertambah akan mempengaruhi ekosistem yang ada. [5]
Dampak bagi biota laut, bisa merusak keseimbangan rantai makanan di laut. Air laut yang semakin asam menjadikannya lebih korosif sehingga mampu melarutkan cangkang, melemahkan pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta kutaan spesies hewan laut yang bergantung kepadanya.
Mari kita cpba visualisasikan apa yang akan terjadi jika hal ini tidak bisa kita (manusia) cegah.
1.       Keadaaan bumi semakin panas.
2.       Kekeringan yang meluas. Karena, keadaan bumi yang semakin panas. Hal ini menyebabkan beberapa tingkat evaporasi yang semakin tinggi, menyebabkan tingkat kekeringan yang semakin tinggi.
3.        Tinggi permukaan laut yang terus naik, akibat dari percairan es di Greenland dan kutub. Hal ini bisa menghilangkan negara-negara dengan mdpl yang rendah.
4.       Krsisi pangan. Akibat dari kekeringan yang panjang, sertor agro akan terus mengalami gagal panen. Dan makanan menjadi bahan yang langka. Dan menyebabkan kelaparan diseluruh dunia.








Antartika, Greenland dan Kita Antartika, Greenland dan Kita Reviewed by Mildisrup on August 20, 2019 Rating: 5

No comments:

Stay Connected

Powered by Blogger.