![]() |
| Sumber Gambar : https://www.flickr.com |
Mildisrup.com Seorang bijak berkata
kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?”
Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku
dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya.
Anakku, kamu harus
membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku
sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir
dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak.
Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu
menangkap esensi cinta.
Lihat batang bunga
mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang
semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu
menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan
daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian
juga dengan hatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang
terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan
kedamaian.
Anakku, begitu sering
kau bicara cinta. Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama,
cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada
kebenaran, cinta kepada Tuhan… Apakah isi atau esensi dari cintamu itu? Kau
bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang
paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku?
Mungkin di kampung kau
punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri
makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah
kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai
kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya
dengan harga yang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu
tidak sepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, karena
kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun,
ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling. Kau cinta
karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena
mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan
kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.
Kau sudah punya istri.
Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu.
Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati,
sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus
kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah
biasa. Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang,
tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang
ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama
kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dan kelak ketika dia sudah keriput
kulitnya, akan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung
perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau
mencintainya, karena dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena
dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.
Kau punya sahabat.
Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga
dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan
bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa
digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang
berbeda dengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia
terus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan
dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi. Dan
perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, karena dia mencintaimu,
sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya,
karena dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah
cintamu.
Cintamu telah
berubah,kau memegang teguh agamamu.
Begitu besar cintamu
kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah
kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun,
suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa
ampun. Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan
maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda
pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya.
Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhlukNya yang seperti ini, meskipun
mereka bersujud atau menghinaNya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau
persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.
Anakku, selama kau begitu
kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama
itu pula kau tidak akan menemukan True Love. Cintamu adalah Selfish Love, cinta
yang mengharapkan, cinta karena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika
sesuatu yang kau cintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya
sedang mengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk
meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal. Pada
awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan lewat di
atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan
truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampak lah
lobang di atas jalan itu. Cinta yang bukan True Love, adalah cinta yang seperti
ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus
memahami hal ini, anakku.
Sekarang lihatlah,
bagaimana Tuhanmu memberikan cintaNya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan
cinta (rahman) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang
menyembahNya dan manusia yang menghinaNya, semua diberiNya kehidupan.
KekuasaanNya ada di setiap yang hidup. Dia tidak meninggalkan makhlukNya, hanya
karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka
yang menyembahNya saja, maka Dia namanya pilih kasih, Dia memberi cinta yang
berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai
setiap ciptaanNya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau
yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan. Anakku, kau harus
menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur,
dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.
Dan kau perlu tahu,
anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu
pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love. Cinta
sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang
kau cintai. Ketika kau mencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu
itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Ya Allah! Ini ciptaanMu, sungguh
cantiknya. Ini kebaikanMu yang kau sematkan dalam dirinya.” Ketika kau lihat
saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran
CahayaNya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus
bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat. Ketika
kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dariMu. Sungguh luar
biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupanNya
yang mewujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau
lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi
berhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan
keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti.
Ketika kau bisa
melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan
cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang
kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta
benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala
filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu.
Cintamu langsung melihat Dia.
Dan hanya Dia yang
bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku. Maka, dalam dirimu hanya
ada Dia, hanya ada pancaran cahayaNya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang
merekah. Karena hanya saat mawar merekah lah akan tampak kehindahan di
dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih
kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi
mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah
hatimu, mekarkan mawarmu.
Anakku, hanya jiwa
yang telah berserah diri saja lah yang akan memancarkan cahayaNya. Sedangkan
jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup
cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat
kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat
baik-baik, teliti dengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak
darimu? Apakah Dia membernarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang “Allahu Akbar,”
apakah kau benar-benar sudah bisa melihat keakbaran Dia dalam setiap yang kau
lihat? Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya
jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmu menuju keber-Islam-an
masih di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat
dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah
kepadaNya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan
rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau
jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan
bertawakkallah. InsyaAllah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu
akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.
Semoga Allah
membimbingmu,anakku..
( Muhammad Raheem Bawa
Muhaiyaddeen ral 1914-1986 )
Cinta Sejati
Reviewed by Multatuti
on
August 17, 2019
Rating:
Reviewed by Multatuti
on
August 17, 2019
Rating:


No comments: