Bahaya Peng-Gurun-an - Mildisrup

Bahaya Peng-Gurun-an

sumber: pixbay.com


“Tidak ada yang dibangun di atas batu, semuanya dibnagun di atas pasir, tapi kita harus menggapn pasir itu batu”
-Jorge Luis Borge-


Rasanya agak aneh berada di sebuah konferensi untuk hal-hal yang belum ada, dan mempresentasikan proposal untuk membangun tembok sepanjang 6.000 kilometer melintasi seluruh benua Afrika. Kira-kira sepanjang tembok besar China yang hamper pasti akan terlihat jelas. Tapi terbuat dari bahan yang tidak terlihat, atau hamper tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka adalah bakteri dan butiran pasir.
Di dalam arsitektur, arsitek dilatih untuk menyelesaikan masalah. Tapi, saya tidak benar-benar percaya pada masalah arsitektur,saya hanya percaya pada kesempatan. Itulah mengapa saya akan menunjukan sebuah ancaman, dan tanggapan arsitekturnya. Ancaman adalah penggurunan, atau perubahan lahan hijuan menjadi gurun.
Tanggapan saya adalah tembok batu pasir yang terbuah dari baktri dan pasir yang dipadatkan, terentang melintas padang pasir. Pasir adalah bahan ajaib dengan kontradiksi yang indah. Sederhana dan rumit. Tenang dan kejam, sellau sama, tidak pernah sama. Dan mempesona.
Satu miliar butiran pasirmuncul di dunia ini setiap detiknya. Ini proses berulang. Saat batuan dan pegunungan mati, butiran pasir terbentuk. Beberapa butiran ini mengeras secara alami membentuk batu pasir. Saat batu pasir tergerus cuaca, butiran pasir batu terlepas. Beberapa butiran pasir ini dapat terkumpul dalam jumah besar, menjadi bukit pasir. Dengan cara tertentu, batuan gunung yang stabil menjadi bukit pasir yang senantiasa bergerak. Bukit pasir yang bergerak dapat berbahaya. Saya akan menjelaskannya.
Daerah tandus meliputi lebih dari sepertiga permukaan tanah di Bumi  dan beberapa telah menajdi gurun pasir, yang lainnya rusak parah karena pasir. Tepat di sebelah selatan sahara ada daerah sahel. Nama itu berartikan “batas padang pasir. Inilah daerah yang paling banyak dihubungkan dengan penggurunan. Di sinilah pada akhir 60-an dan awal 70-an kekeringan parah mengakibatkan tiga juta orang menjadi tergantung kepada bantuan makanan, dengan sekitar 250.000 orang sekarat. Bencana ini tinggal menunggu waktu terjadi lagi. Ini salah satu yang jarang menadpat perhatian. Di tenagh budaya media kita yang semakin cepat, penggurunan berjalan terlalu lambat untuk mencapai tajuk berita utama. Tidak seperti tsunami, tangisan anak-anak dan kerusakan rumah terllau sedikit.
Namun penggurunan, adalah ancaman bagi seluruh benua dan mempengaruhi sekitar 110 negara dan sekitar 70% dari lahan pertanian dunia. Ini benar-benar mengancam kehiduan jutaan orang, terutama di Afrika, China dan Indonesia. Sebagian besar masalah ini berasal dari kita sendiri melalui penggunaan berlebihan sumber yang terbatas. Sehingga kita mengalami perubahan iklim. Kita mengalami kekeringan, meningkatnya penggurunan, kehancuran system makanan, kekurangan air, kelparam, migrasi paksa, ketidak stabilan politik, peperangan, krisis. Itulah scenario yang dapat terjadi jika kita gagal menanggapi dengan serius. Namun, seberapa serius masalah kita?
Sebagai contoh ada sebuah tempat bernama Sakoto di Nigeria Utara untuk mencari tau seberapa serius masalah itu. Bukit pasir di sana bergerak ke selatan sekitas 600 meter per tahun. Gurun Sahara memakan lahan subur hamper 1 meter setiap harinya, mengusir orang-orang dari rumah mereka. Orang-orang di Sakoto harus memindahkan desa ini di tahun 1987 karena terancam tertelan bukit pasir besar. Mereka memindahkan rumah-rumahnya, satu per satu. Karena penggurunan, inilah migrasi paksa yang dapat diakibatkan oleh penggurunan. Jika Anda tinggal dekat dengan perbatasan gurun, anda akan dapat memperkirakan berapa lama lagi anda harus membawa anak-anak anda pergi, dan meninggalkan rumah dan kehidupan anda.
Bukit pasir hanya meliputi sekitar seperlima gurun pasir. Namun, lingkungan ekstrim itu adalah tempat yang baik jika kita ingin menghentikan pergeseran pasir. Pada tahun 2005, 23 negara Afrika bergabung bersama untuk membuat “Tembok Hijau Besar Sahara”. Rencana awal proyek yang luar biasa menyerukan pembuatan sabuk pepohonan untuk ditanami melintasi benua Afika, dari Mauritania di sebelah Barat hingga ke Djibouti di sebelah Timur. Jika Anda ingin mengehentikan pergeseran gurun pasir anda harus memastikan agar longsoran butiran pasir dari permukaannya berhenti. Dan cara paling tepat dan paling efesien untuk melakukannya adalah menggunakan semacam penangkap pasir. Pohon atau kaktus cukup baik. Namun masalahnya dengan penanaman pohon adalah orang-orang di daerah ini sangat miskin, mereka akan menebangnya untuk dijadikan kayu bakar.
Kita harus menemukan pilihan selain menanam pohon dengan cara konvensional dan berharap mereka tidak akan menebangnya. Dan saya mengusulkan konsep “Tembok Batu Pasir” yang baru, yang  dasarnya berguna untuk tiga hal. Yang pertama, menambah kekuatan permukaan bukit pasir, tektur permukaan bukit pasir, mengikat butiran pasirnya. Kedua, menyediakan struktur penunjang untuk pepohonan, dan menciptkan ruangan fisik,tempat layak huni di dalam bukit pasir.  
Jika orang-orang tinggal di dalam pelindung hijau, mereka dapat membantu melindungi pepohonan ini baik dari manusia maupun dari kekuatan alam. Di dalam bukit pasir ini kita dapat keteduhan. Kita dapat mulai mengambil embun, dan menghijaukaan gurun pasir dari dalam.
Sedikit banyak, gurun pasir sudah mirip gedung yang sudah jadi. Yang kita perlukan hanya tinggal memperkeras bagian-bagian yang diperlukan, dan menggali pasirnya, sehingga arsitekturnya dalat terbentuk. Kita dapat menggalinya dengan tangan atau membiarkan angina menggalinya untuk kita. Angina itu membawa pasir ke tempat pembangunan lalu membawa pergi pasir yang berlebihan dari skruktur itu.
 Kini mungkin anda bertanya bagaimana saya berencana memperkeras bukit pasir?
Bagaimana kita mengikat butiran pasir itu?
Jawabanyya, mungkin, menggunakan ini, “BASILLUS PASTTEURII”. Mikroorganisme yang telah tersedia di lahan basar dan rawa-rawa dan melakukan hal yang kita perlukan. Bakteri ini menyerap tumpukan pasir lembut dan membuat batu pasir. Komunitas mikrobiologi Amerika menunjukan prosenya. Yang terjadi, Basillus pasterurii dituangkan ke tumpukan pasir, dan bakteri ini mulai mengisi ruang kosong di antara butiran pasir. Sebuah reaksi kimia yang menghasilkan kalsit, kalsit ini semacam semen alami yang mengikat butiran ini bersama. Dan memperkecil penguapan. Seluruh proses penyemenan ini memakan waktu 24 jam. Saya mempelajari ini dari seorang Profesaor bernama Jason DeJong di U.C Davis. Beliau berhasil membuatnya dalam waktu 1.400 menit.
Lalu, kita akan berbicara secara ekonomi, berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan ini?
Saya mencoba untuk menghitung biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengembangan proyek ini. Dan hasilnya dalam satu meter kubik beton, kita harus membayar sekitar 1, 5 juta Rupiah. Kita harus mengeluarkan modal awal dengan membeli bakteri ini, setelah itu kita kembang biakan. Dan membiarkan bakteriini memperkeras gurun dalam beberapa tahun. Dan kita hijaukan gurun pasir itu.
Dalam prosesnya kita bentuk gurun pasir itu atau terjadi secara alami. Tapi sesuatu yang menghubungkan orang-orang dan Negara-negara.
Beberapa orang percaya bakteri ini kana berkembang biak dengan tidak terkendali, dan bakteri itu akan membunuh semuanya. Itu sama sekali tidak benar. Ini adalah proses alami. Ini terjadi di alam kita sekarang dan bakteri itu akan langsung mati jika kita tidak memberi mereka makan.
Jadi, ini dia struktur arsitektur penangkal penggurunan yang dibuat dari gurun itu sendiri. Perangkat penghenti laju pasir, terbuat dari pasir. Dunia ini kemungkinan akan kehilangan sepertiga tanah suburnya pada akhir abad ini. Pada masa pertumbuhan populasi yang sangat pesat dan meningkatnya kebutuhan makanan, ini dapat berbahaya. Sejujurnya, kita membenamkan kepala kita ke dalam pasir.



Bahaya Peng-Gurun-an Bahaya Peng-Gurun-an Reviewed by Mildisrup on September 16, 2019 Rating: 5

No comments:

Stay Connected

Powered by Blogger.