![]() |
| Sumber : Pixabay.com |
(2) Tentu
saja, awal mula alam semesta telah dibahas jauh sebelumnya. Menurut sejumlah
kosmologi awal dan agama Yahudi, Kristen, Muslim, alam semesta bermula pada
satu saat tertentu yang belum lama berlalu. Satu argumen mendukung adanya awal
mula alam semesta adalah perasaan bahwa diperlukannya “Penyebab Pertama” (first
Cause) untuk menjelaskan keberadaan
alam semesta. (Di dalam alam semesta, suatu peristiwa selalu dijelaskan sebagai
disebabkan peristiwa lain sebelumnya, tapi keberadaan alam semesta itu sendiri
dapat dijelaskan dengan cara demikian hanya bila alam semesta punya awal mula.)
Argumen lain diajukan oleh St. Agustinus dalam bukunya De Civitate Dei (Kota
Tuhan.) St. Agustinus menunjukkan bahwa peradaban terus maju dan kita mengingat
siapa yang melakukan perbuatan atau mengembangkan teknik. Jadi, manusia dan
barangkali juga alam semesta tak mungkin sudah ada dalam jangka waktu sangat panjang.
St. Agustinus menerima bahwa penciptaan alam semesta terjadi kira-kira tahun
5000 sebelum Masehi, menurut Kitab Kejadian. (Menariknya, waktu itu tak
Seberapa jauh dari zaman akhir Zaman Es terakhir; sekitar 10.000 sebelum
Masehi, masa yang disebut para ahli arkeologi sebagai permulaan peradaban.)
Di pihak
lain, Aristoteles dan sebagian besar filsuf Yunani lain tak menyukai gagasan
penciptaan karena terlalu berbau campur tangan Ilahi. Mereka percaya bahwa umat
manusia dan dunia di sekitarnya sudah selalu ada dan bakal terus ada
selama-lamanya. Orang-orang zaman dulu itu sudah mempertimbangkan argumen
kemajuan sebagaimana yang disebut diatas, dan menjawabnya dengan mengatakan
telah terjadi banjir besar dan bencana lain yang berkali-kali mengembalikan
umat manusia ke keadaan awal peradaban.
Pertanyaan
apakah alam semesta memiliki permulaan dalam waktu dan apakah alam semesta
memiliki batas dalam ruang kemudian dibahas secara luas oleh fisuf Immanuel Kant
dalam karyanya yang monumental (dan sangat samar) Kritik der reinen
Vernunft (kritik atas Nalar Murni), yang diterbitkan pada 1781. Kant
menyebut pertanyaan-pertanyaan itu sebagai antinomi (artinya kontradiksi)
terhadap Nalar murni karena dia merasa ada alasan-alasan yang sama kuat untuk
mempercayai tesis, bahwa alam semesta punya permulaan, dan antitesis, bahwa
alam semesta selalu ada. Argumen Kant mendukung tesis adalah bahwa bila alam
semesta tak punya permulaan, maka bakal ada jangka waktu yang tak terhingga
sebelum peristiwa apapun, yang dianggap absurd. Argumen mendukung antitesis
adalah bahwa jika alam alam semesta punya permulaan, bakal ada jangka waktu
yang tak terhingga sebelum permulaan itu, jadi mengapa alam semesta harus
bermula pada satu waktu tertentu? Sebenarnya, alasan Kant bagi tesis dan
antitesis adalah argumen yang sama Keduanya didasarkan kepada asumsi yang Kant
tak sebut, bahwa waktu berlanjut terus ke belakang ke masa lalu yang tak
terhingga, tanpa peduli alam semesta selalu ada atau tidak. Seperti akan kita
lihat, Konsep waktu tak punya makna sebelum permulaan alam semesta. Itu pertama
kali di tunjukkan oleh St. Agustinus. Ketika ditanya: "Apa yang Tuhan lakukan
sebelum dia menciptakan alam semesta?" Agustinus tak menjawab "Dia
mempersiapkan neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti itu". Dia
malah menyatakan bahwa waktu adalah bagian alam semesta yang Tuhan ciptakan dan
waktu tidak ada sebelum permulaan alam semesta.
Ketika sebagian
besar orang percaya bahwa alam semesta pada intinya statis tidak berubah,
pertanyaan apakah alam semesta punya permulaan atau tidak merupakan pertanyaan
metafisika atau teologi. Semua yang diamati bisa dijelaskan dengan teori bahwa
alam semesta selalu ada maupun teori bahwa alam semesta bermula pada waktu
tertentu dan terlipat seolah selalu ada. Tapi pada tahun 1929 Edwin Hubble
mendapat pengamatan penting bahwa kemanapun kita melihat, galaksi-galaksi yang
jauh bergerak menjauhi kita. Dengan kata lain, alam semesta ini mengembang.
Artinya pada masa lalu segala benda kiranya berada lebih dekat atau sama lain.
Malah tampaknya ada suatu waktu, sekitar 10 atau 20 miliar tahun yang lalu,
ketika segalanya berada di tempat yang sama, sehingga kerapatan tak terhingga.
Penemuan itu akhirnya membawa pertanyaan awal mula alam semesta ke dalam ranah
sains.
Pengamatan
Hubble memberi kesan bahwa ada saat yang disebut ledakan besar atau Big Bang,
ketika alam semesta luar biasa kecil dan rapat. Dalam kondisi seperti itu,
semua hukum sains dan karena itu semua kemampuan memprediksi masa depan, bakal
buyar tanda . Jika ada peristiwa sebelum saat itu, maka peristiwa itu tak dapat
mempengaruhi apa yang terjadi sekarang. Keberadaan peristiwa sebelum Ledakan
Big Bang atau Ledakan Besar bisa diabaikan karena tak berpengaruh apa-apa
terhadap pengamatan. Boleh dibilang waktu bermula pada Letakkan ledakan besar,
dalam arti waktu sebelum ledakan besar tak terdefinisikan. Perlu ditegaskan
bahwa permulaan waktu itu sangat berbeda dengan apa yang sebelumnya dibahas.
Dalam suatu alam semesta yang tak berubah, waktu adalah sesuatu yang harus
diterapkan oleh sosok di luar alam semesta: tak wajib ada permulaan. Bisa
dibayangkan Tuhan menciptakan alam semesta pada saat apapun yang sudah lalu. Di
pihak lain, jika alam semesta mengembang, cobalah jadi ada alasan fisik Mengapa
harus ada permulaan. Dapat dibayangkan juga Tuhan menciptakan alam semesta pada
saat ledakan besar, atau bahkan menciptakan sesudahnya sedemikian sehingga
terkesan seolah ada ledakan besar, tapi tak ada artinya membayangkan alam
semesta diciptakan sebelum ledakan besar. Alam semesta mengembang tidak
melanjutkan penciptanya, tapi jelas membatasi kapan pencipta bisa melakukan
penciptaan!
Untuk
bisa berbicara mengenai hakikat alam semesta dan membahas pertanyaan Seperti
apakah alam semesta punya permulaan atau akhir, kita harus tahu apa itu teori
sains. Saya akan menggunakan pandangan sederhana bahwa teori hanyalah model
alam semesta, atau sebagiannya, dan satu set aturan yang menghubungkan
kuantitas-kuantitas di model pengamatan yang kita buat. Boleh hanya ada dalam
akal budi kita dan tak punya realitas lain apapun artinya itu. Suatu teori
dianggap bagus jika memenuhi dua syarat. Teori harus secara akurat menjabarkan
sekelompok besar pengamatan berdasarkan suatu model yang hanya mengandung
sedikit unsur arbitrer, dan teori itu harus membuat prediksi tertentu mengenai
hasil pengamatan pada masa depan. Contohnya, Aristoteles percaya teori
Empedokles yang mengatakan bahwa segala benda terbuat dari 4 unsur tanah,
udara, api, dan air. Teori Itu Sederhana, tapi tidak membuat prediksi tertentu.
Di pihak lain. Teori gravitasi Newton didasarkan kepada model yang lebih
sederhana lagi, dimana benda-benda tarik-menarik dengan gaya yang sebanding
dengan besaran yang disebut massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak
antar benda. Teori Newton juga memprediksi gerak matahari, bulan, dan
planet-planet dengan akurasi tinggi.
Semua
teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti bahwa teori itu hanya
hipotesis: tidak bisa dibuktikan benar. Tak peduli seberapa banyak hasil
percobaan sesuai dengan 1 teori, kita tidak bisa memastikan bahwa kelak hasil
tak dapat bertentangan dengan teori. Di pihak lain, suatu teori bisa disangkal
dengan menemukan satu saja pengamatan yang tak cocok dengan prediksi teori itu.
Sebagaimana ditegaskan filsuf sains Karl Kopper, ciri teori yang baik adalah
Kalau teori itu membuat sejumlah prediksi yang pada prinsipnya dapat disangkal
atau dibuktikan keliru dengan pengamatan. Tiap kali percobaan baru memberi
hasil yang cocok dengan prediksi, teori terus bertahan, dan keyakinan kita
terhadapnya meningkat: tapi jika ada pengamatan baru yang didapat tidak cocok,
kita harus tinggalkan atau ubah teori itu.
Setidaknya
itulah yang seharusnya terjadi, tapi kita selalu bisa mempertanyakan kompetensi
orang yang melakukan pengamatan.
Dalam praktik, yang terjadi yang sering
terjadi adalah bahwa teori baru digagas sebagai perpanjang teori sebelumnya.
Contohnya, pengamatan sangat akurat terhadap planet Merkurius mengungkapkan
perbedaan kecil antara gerak Merkurius dan prediksi teori gravitasi Newton.
Teori relativitas umum dan memprediksi gerak yang sedikit berbeda dari teori
Newton. Kenyataan bahwa prediksi Einstein cocok dengan apa yang dilihat
sementara prediksi Newton tidak cocok adalah salah satu konfirmasi penting bagi
teori baru tersebut. Namun kita masih menggunakan teori Newton untuk memperluas
praktis karena perbedaan antara prediksinya dan prediksi relativitas umum
sangat kecil dalam situasi yang biasanya kita hadapi, (Teori Newton juga punya
kelebihan yakni lebih sederhana daripada teori Einstein!)
Tujuan akhir
sains adalah menyediakan satu teori yang menjabarkan seluruh alam semesta.
Namun pendekatan yang diikuti sebagian besar ilmuwan adalah memecahkan
persoalan yang itu menjadi dua bagian. Pertama, ada hukum-hukum yang beritahu
kita bagaimana alam semesta berubah seiring berjalannya waktu. (Jika kita tahu
seperti apa alam semesta pada suatu waktu, maka hukum-hukum fisika akan memberikan
kita seperti apa alam semesta pada waktu berikutnya). Kedua, ada persoalan
keadaan awal (Initial State) alam semesta. Beberapa orang merasa bahwa
sains seharusnya hanya membahas bagian permulaan: mereka menganggap persoalan
keadaan awal adalah urusan metafisika atau agama. Mereka berkata bahwa Tuhan
Yang Mahakuasa dapat memulai alam semesta dengan cara apapun yang Dia mau.
Boleh jadi memang demikian, tapi kalau begitu Dia dapat membuat alam semesta
berkembang semau Dia. Namun tampaknya Dia memilih alam semesta berkembang
secara sangat teratur mengikuti hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu tampaknya
masuk akal juga kalau diduga bahwa ada hukum-hukum yang mengatur keadaan awal.
Ternyata sukar sekali merumuskan teori yang
menjabarkan alam semesta secara keseluruhan dan sekali jalan. Kita malah
memecah persoalan itu menjadi potongan-potongan kecil dan menciptakan sejumlah
teori yang hanya menjelaskan sebagian. Tapi teori penjelas sebagian itu
menjabarkan dan memprediksi sekelompok terbatas pengamatan, mengabaikan akibat
besar-besaran lain, atau mewakili besaran-besaran lain dengan set bilangan
sederhana. Boleh jadi berdekatan itu benar-benar keliru. Jika segala hal dalam
alam semesta bergantung kepada hal-hal lain secara mendasar, kiranya mustahil
mencapai bentuk pemecahan lengkap dengan memprediksi bagian-bagian persoalan
secara terpisah. Namun cara demikian telah membuat kita mendapat kemajuan pada
masa lampau. Lagi-lagi contoh klasiknya adalah teori gravitasi Newton yang
memberitahu kita bahwa gaya gravitasi antara dua benda bergantung kepada hanya
satu bilangan terkait dengan setiap benda, yakni massa benda tersebut, tapi tak
terlihat dengan apa yang menyusun benda. Jadi tak diperlukan teori mengenai
struktur atau susunan Matahari serta planet-planet untuk menghitung orbit.
Hari ini
para ilmuwan menjabarkan alam semesta berdasarkan dua teori dasar yang
menjelaskan sebagian teori relativitas umum dan mekanika kuantum. Keduanya
adalah prestasi besar intelektual paruh awal abad ke-20. Teori relativitas umum
jabarkan gaya gravitasi dan struktur skala besar alam semesta, yakni struktur
berskala dari beberapa mil sampai berapa 1.000.000 juta juta juta (1 dengan dua puluh empat nol sesudahnya) mil,
ukuran alam semesta yang bisa diamati. Di pihak lain, mekanika kuantum membahas
fenomena di segala luar biasa kecil. Seperti 1 per 1.000.000 inci. Tapi
sayangnya kedua teori itu diketahui tak konsisten satu sama lain -tak mungkin
benar kedua-duanya. Salah satu usaha utama fisika sekarang, dan tema utama buku
ini, adalah pencarian teori baru yang akan mencakup keduanya teori gravitasi
kuantum. Kita belum punya teori seperti itu, dan boleh jadi kita masih jauh
darinya, tapi kita sudah tahu banyak sifat yang harus dipunyai nya. Dan akan
kita lihat, di bab-bab berikutnya, bahwa kita sudah tahu cukup banyak mengenai
pernyataan-pernyataan yang harus dibuat oleh teori gravitasi Quantum.
Sekarang,
jika kita percaya bahwa alam semesta tidak teratur, tapi diatur oleh hukum
hukum tertentu, maka ujung-ujungnya anda harus bergabung teori-teori yang baru
menjelaskan sebagian menjadi satu teori terpadu (unifield theory) lengkap
dengan menjabarkan segala isi alam semesta. Tapi ada paradoks mendasar dalam
pencarian teori terpadu lengkap. Gagasan-gagasan mengenai teori sains yang
sudah disebut menganggap kita adalah sosok rasional yang bebas mengamati alam
semesta sebagaimana kita kehendaki dan mengambil kesimpulan logis berdasarkan
apa yang kita lihat.
Dalam
skema seperti itu, masuk akal lah menganggap bahwa kita bisa terus maju
mendekati hukum-hukum yang mengatur alam semesta kita. Namun jika memang benar
atau ada teori terpadu lengkap, itulah kiranya menentukan segala tindakan kita.
Jadi Teori ini sendiri bakal menentukan hasil pencarian kita terhadapnya! Dan
Mengapa teori itu harus menentukan bahwa kita akan sampai ke kesimpulan yang
benar berdasarkan bukti bukankah bisa jadi teori itu menentukan kita dapat kita
akan mendapatkan kesimpulan yang salah? Atau hanya kesimpulan yang sama sekali?
Satu-satunya
jawaban yang saya bisa berikan untuk mempersoalkan itu didasarkan kepada kaidah
seleksi alam Darwin. Gagasannya adalah bahwa dalam populasi organisme yang
berkembang biak, akan ada keragaman dalam materi genetis dan perkembangan berbagai
individu. Perbedaan-perbedaan itu berarti bahwa sebagian individu akan lebih
mampu menarik kesimpulan yang benar mengenai dunia sekitar mereka dan bertindak
sesuai kesimpulan. Individu-individu itu akan lebih besar kemungkinannya untuk
lestari dan berkembangbiak, sehingga pola kehidupan dan pemikiran mereka akan
unggul. Sejak dulu sudah terbukti bahwa ada yang kita sebut kecerdasan dan
penemuan sains telah memberi kelebihan dalam bertahan hidup. Belum jelas apakah
memang akan terus demikian: penemuan sains kita bisa saja menghancurkan kita
semua dan kalaupun tidak teori tersebut lengkap pun boleh jadi tadi
menghasilkan banyak perbedaan pada peluang kita untuk bertahan. Namun, apabila
alam semesta telah berkembang secara teratur bolehlah kita harapkan bahwa kemampuan
penalaran yang telah diberi seleksi alam kepada kita bahwa berlalu juga dalam
pencarian kita akan teori terpadu tersebut lengkap, sehingga tak bakal
mengarahkan kita ke kesimpulan yang salah.
Karena
teori-teori penjelas sebagian yang kita punya sudah memadai untuk membuat
prediksi akurat di segala keadaan kecuali yang paling ekstrem, pencarian teori
pamungkas alam semesta tampak sukar dibenarkan secara praktis. (Tapi layak
diperhatikan bahwa alasan yang sama bisa diajukan juga terhadap relativitas dan
mekanika kuantum dan teori-teori itu telah memberi kita energi nuklir dan
revolusi mikroelektronika!) Penemuan teori padu lengkap boleh jadi tak membantu
pelestarian spesies kita. Bahkan mungkin mempengaruhi gaya hidup kita. Tapi
sejak Fajar peradaban manusia tak pernah puas melihat peristiwa-peristiwa yang
tak saling terhubung dan tak dijelaskan. Mereka menginginkan pemahaman
keteraturan yang mendasari dunia. Hari ini kita masih ingin tahu mengapa kita
ada di sini dan darimana kita datang. Hasrat terdalam umat manusia untuk
mencari pengetahuan adalah alasan kuat untuk melanjutkan pencarian. Dan tujuan
kita adalah penjelasan lengkap atas alam semesta yang kita diami.
A Brief History Of Time : Gambaran Alam Semesta (1.2)
Reviewed by Mildisrup
on
December 30, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
December 30, 2019
Rating:


No comments: