Cinta Jilid II - Mildisrup

Cinta Jilid II

 
Kecerdasan Buatan. 
Sebenarnya saya terkejut bukan main dengan penjelasan teteh berkaca mata ini. Daan ingin saya masih terkesima dengan perbincangan di tempat foto copy ini. Tapi tiba-tiba teteh misterius melanjutkan kembali ocehannya “tampa itu semua kita akan kalah dengan robot akan di masa depan.”
Ahhh, kela, kela kok jadi robot ini ya.. langsung saya sela “ini kok malah nyambung ke robot ya teh hehe”
 Dia memandang saya, dan kaca matanya tiba-tiba menjadi mengkilap layaknya tokoh di komik wkwk sambil berkata “Meminjam kata di ted x: mesin bisa menghitung, kita punya pemahaman. Mesin punya instruksi, kita punya tujuan. Mesin punya objektifitas, kita punya gairah.” Jika cita-cita dan harapan ini kita hilang apa bedanya kita dengan mesin?”
“tapi saya khawatir loh the saya fenomena AI ini, malah di Amerika sana lebih dari 50% pekerjaan akan digantikan oleh AI..”
“kita seharusnya tidak khawatir akan kemampuan mesin sekarang, melainkan kita seharusnya khawatir akan ketidakmampuan mesin sekrang. Dengan AI kita bisa mempercepat penemuan yang kalo diurus oleh manusia membutuhkan waktu 1000 tahun, tetapi dengan AI hanya butuh 40 hari saja”
“Jadi kita jangan khawatir gitu sama AI ini?” bener-bener terkesima saya.
“Ini bener, robot tetep engga bisa punya harapan, cita-cita, sisi humanity. Kalo kata Charlin Chaplin mah ‘Kita semua ingin saling membantu. Manusia seperti itu. Kita ingin hidup dengan kebahagiaan orang lain-bukan dengan penderitaan orang lain. Kita tidak ingin saling membenci dan berkeinginan. Di dunia ini ada ruang untuk setiap orang. Dan bumi yang baik itu kaya dan bisa menyediakan bagi semua orang. Cara hidup bisa bebas dan indah, tetapi kita telah kehilangan arah. Keserakahan telah meracuni jiwa manusia, telah membuat barikade dunia dengan kebencian, telah membuat kita angsa menjadi kesengsaraan dan pertumpahan darah. Kita memiliki kecepatan pengembangan, tetapi kita telah menutup diri. Mesin yang memberikan kelimpahan telah membuat kita kekurangan. Pengetahuan kita membuat kita sinis. Kepintaran kita. Keras dan tidak baik. Kita terlalu banyak berpikir dan merasa terlalu sedikit. Lebih dari mesin kita membutuhkan manusia. Lebih dari mesin kita membutuhkan manusia. Lebih dari mesin kita membutuhkan kebaikan dan kelembutan. Tanpa sifat-sifat ini, hidup akan menjadi kejam dan semua akan hilang. Dengan itu semua kita tidak perlu khawatir dengan robot atau mesin yang ada, yang perlu kita terus gali, dan selalu dilupakan mahasiswa dan orang Indonesia adalah bermimpi besar, belajar, dan Cinta. Dengan semua itu kita akan menemukan titik keseimbangan’”
Saya jadi pusing mendengar penjelasan teteh berkaca mata, yang seorang filsuf, sekaligus teknokrat ini. Jadi binggung sebenernya dia itu mahasiswa ekonomi atau apa sih. @_@
  “jadi?”
“lah, jadi apa teh?”
“jadi, apa kesimpulan kamu?”
“saya jadi binggung teh. Binggung harus berbuat apa. Kalo liat masalah-masalah di Indonesia ini, khususnya mahasiswanya”
“hahahaha.. sekarang kamu tahu, jangan binggung. Lakukan yang baik sekarang tugas kamu. Lakukan apa yang kamu bisa. Terus membaca buku, jangan takut, karena orang yang mau belajar akan mudah. Jujur, cinta, mimpi besar, cita-cita, dan terus belajar dari manapun, dari buku atau belajar dari social.”
“Muhun teh” sekali lagi saya tercengang. Dan menggangguk mantap.
“dahhh,, foto copyan teteh udah selesai. Ayo cepet kita ke sekre.”
“asshiiappp teh” hahaha
Angin berhembus, dan membisukanku segala pemikiranku tentang Indonesia. Huftttttttttt….
Cinta Jilid II Cinta Jilid II Reviewed by Multatuti on February 17, 2019 Rating: 5

No comments:

Stay Connected

Powered by Blogger.