HMI adalah organisasi kemahasiswaan yang tertua di Indonesia dan mempunya banyak kader diseluruh pelosok nusantara. HMI hadir khusus untuk mahasiswa yang merindukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal tatanan sosial. Karena sesuai dengan tujuan HMI yang terdapat dalam konstitusi HMI di bagian akhirnya yatiu “masyarakt adil makmur yang di ridhoi Allah swt” ini menjadi cita – cita luhur dan orientasi hidup para kader HMI sejak tahun 1970an sampai sekarang.
Akan tetapi setiap masa yang dilewati tiap – tiap kader berbeda dan tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Karena tantangan angkatan pertama kader HMI tahun 1940an berbeda dengan tantangan kader HMI angkatan 2000, karena seiring dengan berkembangnya teknologi, psikologi dan karakter tiap generasi berbeda. Apalagi sekarang di era milenial dimana teknologi berkembang dengan sangat pesat sekali dan kehidupan manusia sudah hampir bergantung pada teknologi mengakibatkan kehidupan yang tak terpisahkan dari teknologi.
HMI harus memiliki arah baru dalam perjuangan agar tidak terlindas oleh zaman, karena kalau HMI monoton diam saja di tenpat bukan orang lain yang akan menghancurkan HMI, tapi waktu yang akan memaksa masyarakat Indoensia untuk melupakan HMI terkhusus mahasisswa diseluruh Nusantara (ko gua sedih ya HMI dilupakan.....)
Sudah saatnya kader – kader HMI melakukan sesuatu yang kongkret, tidak mengambag lagi. Pola perilaku manusia di zaman sekarang sudah muak dengan orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada kerjanya. Sudah saatnya kader – kader HMI turun gras root mencoba membantu masyarakat, karena memang itu cita – cita luhur para kader HMI dari generasi ke generasi, menegakan masyarakat cita.
Didalam NDP HMI Cak Nur bilang bahwa masyarakat Indonesia pada saat itu telah bersikap Apologetik yaitu terlena dengan tinta emas sejarah dan cenderung tidak melakukan apa – apa hanya mengagungkan kejayaan islam pada zaman dahulu. Sasaran Cak Nur pada saat itu adalah masyarakat Indonesia dan para ulama yang enggan membuat sesuatu yang baru, tapi sikap Apologetik sekarang malah di laksanakan oleh seluruh kader HMI di Indoensia, kita selalu saja membanggakan kader – kader HMI zaman dahulu, tanpa kita membuat sesuatu yang baru.
Bukannya melarang membanggakan kader – kader HMI zaman dulu tapi kalau kita membanggakan tanpa membuat sesuatu yang baru artinya kita sudah terjebak dalam romantisme sejarah dan berhenti berfikir, sedangkan kejumudan yang nyata itu tertulis di NDP adalah ketika kita merasa segala sesuatu sudah final dan disaat itu kita berhenti berfikir itulah kejmudan yang nyata.
Ini adalah panggung kita maka buatlah nama kita yang naik panggung bukannya kanda – kanda kita, mereka sudah cukup mendapatkan panggung pada masanya. Tantangan yang lainnya adalah HMI harus bisa memanfaat kan teknologi agar memudahkan bagi para kader untuk mengakses atau mendapatkan info tentang HMI, di zaman sekarang orang lebih ingin segala sesuatu itu praktis tidak ribet, dan yang terpenting nyata bukan fiksi.
Coba mari kita renungkan kalau ada dari kanda/yunda ini yang sepaham bahwa HMI harus melakukan perubahan arah gerak maka kanda dan yunda adalah teman saya (eet dah kan emang kita berteman lebih dari saudara). Jangan salahkan orang lain dengan keadaan yang saat ini terjadi, jangan salahkan PB kasihan mereka sudah terlalu banyak kesalahan, kita fokus saja mulai perubahan dari yang terbawah terlebih dahulu seperti komisariat, tampung aspirasi seluruh kader dan berusahalah untuk menyalurkan aspirasi itu.
Kita anggap apa yang terjadi saat ini di PB sebagai surplus pemimpin, karena saking banyaknya kader HMI yang hebat hingga sanggup melahirkan 2 pemimpin sekaligus.
Arah baru dan metode baru sangat di butuhkan di HMI, inovasi dan kreatifitas tidak boleh ada yang memberhentikannya siapapun itu sekalipun itu senior derajatnya hampir sama kaya nabi.
Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, sampaikan dengan Amal
Akan tetapi setiap masa yang dilewati tiap – tiap kader berbeda dan tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Karena tantangan angkatan pertama kader HMI tahun 1940an berbeda dengan tantangan kader HMI angkatan 2000, karena seiring dengan berkembangnya teknologi, psikologi dan karakter tiap generasi berbeda. Apalagi sekarang di era milenial dimana teknologi berkembang dengan sangat pesat sekali dan kehidupan manusia sudah hampir bergantung pada teknologi mengakibatkan kehidupan yang tak terpisahkan dari teknologi.
HMI harus memiliki arah baru dalam perjuangan agar tidak terlindas oleh zaman, karena kalau HMI monoton diam saja di tenpat bukan orang lain yang akan menghancurkan HMI, tapi waktu yang akan memaksa masyarakat Indoensia untuk melupakan HMI terkhusus mahasisswa diseluruh Nusantara (ko gua sedih ya HMI dilupakan.....)
Sudah saatnya kader – kader HMI melakukan sesuatu yang kongkret, tidak mengambag lagi. Pola perilaku manusia di zaman sekarang sudah muak dengan orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada kerjanya. Sudah saatnya kader – kader HMI turun gras root mencoba membantu masyarakat, karena memang itu cita – cita luhur para kader HMI dari generasi ke generasi, menegakan masyarakat cita.
Didalam NDP HMI Cak Nur bilang bahwa masyarakat Indonesia pada saat itu telah bersikap Apologetik yaitu terlena dengan tinta emas sejarah dan cenderung tidak melakukan apa – apa hanya mengagungkan kejayaan islam pada zaman dahulu. Sasaran Cak Nur pada saat itu adalah masyarakat Indonesia dan para ulama yang enggan membuat sesuatu yang baru, tapi sikap Apologetik sekarang malah di laksanakan oleh seluruh kader HMI di Indoensia, kita selalu saja membanggakan kader – kader HMI zaman dahulu, tanpa kita membuat sesuatu yang baru.
Bukannya melarang membanggakan kader – kader HMI zaman dulu tapi kalau kita membanggakan tanpa membuat sesuatu yang baru artinya kita sudah terjebak dalam romantisme sejarah dan berhenti berfikir, sedangkan kejumudan yang nyata itu tertulis di NDP adalah ketika kita merasa segala sesuatu sudah final dan disaat itu kita berhenti berfikir itulah kejmudan yang nyata.
Ini adalah panggung kita maka buatlah nama kita yang naik panggung bukannya kanda – kanda kita, mereka sudah cukup mendapatkan panggung pada masanya. Tantangan yang lainnya adalah HMI harus bisa memanfaat kan teknologi agar memudahkan bagi para kader untuk mengakses atau mendapatkan info tentang HMI, di zaman sekarang orang lebih ingin segala sesuatu itu praktis tidak ribet, dan yang terpenting nyata bukan fiksi.
Coba mari kita renungkan kalau ada dari kanda/yunda ini yang sepaham bahwa HMI harus melakukan perubahan arah gerak maka kanda dan yunda adalah teman saya (eet dah kan emang kita berteman lebih dari saudara). Jangan salahkan orang lain dengan keadaan yang saat ini terjadi, jangan salahkan PB kasihan mereka sudah terlalu banyak kesalahan, kita fokus saja mulai perubahan dari yang terbawah terlebih dahulu seperti komisariat, tampung aspirasi seluruh kader dan berusahalah untuk menyalurkan aspirasi itu.
Kita anggap apa yang terjadi saat ini di PB sebagai surplus pemimpin, karena saking banyaknya kader HMI yang hebat hingga sanggup melahirkan 2 pemimpin sekaligus.
Arah baru dan metode baru sangat di butuhkan di HMI, inovasi dan kreatifitas tidak boleh ada yang memberhentikannya siapapun itu sekalipun itu senior derajatnya hampir sama kaya nabi.
Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, sampaikan dengan Amal
HMI ku
Reviewed by Fadil M
on
February 16, 2019
Rating:
Reviewed by Fadil M
on
February 16, 2019
Rating:


No comments: