"Tanpa teori yang revolusioner, tidak akan ada gerakan yang revolusioner" begitu kira-kira Lenin memandang
tentang perlunya gerakan pembaharuan yang dilandasi oleh teori yang jelas akibat dari akumulasi keresahannya terhadap realitas sosial yang ada.
Berbicara mengenai gagasan dan gerakan pembaharu perlu kiranya kita menerobos batas-batas mitos yang hari ini sering di gaungkan oleh mahasiswa tentang romantisme sejarah angkatan 66, 74, 78 dan 98 yang pada masanya berhasil menumbangkan tirani. Bukan untuk menegasikan kebaikan sejarah yang ada tetapi akibat dari terlalu mengagung-agungkan sejarah masa lalu hanya membuat kita terjebak pada rasa bangga saja, lebih sakit lagi pada akhirnya kita tak bisa merubah apa-apa.
Sejarah menyebutkan bahwa sejak Manifesto Cordoba yang di pelopori oleh mahasiswa di Argentina pada tahun 1918 sampai pada bergulirnya revolusi revolusi (lebih lembut: Reformasi) yang terjadi di berbagai negara adalah dilandasi oleh kesadaran Realisme mahasiswa. Realisme adalah pemahaman tentang fakta/realitas secara empirik (bisa dirasakan oleh indera), faktual (terikat ruang dan waktu), serta real (melampaui kelas-kelas struktur) yang terjadi di luar dari diri pengamat (subjek: Mahasiswa). Artinya berangkat dari realitas sosial yang terjadi di lingkungan mahasiswa pada masa itu mengaktifkan kesadaran willing to do something untuk merubah keadaan yang ada.
Tentu saja sejarah di atas memiliki ruang dan waktu di masa lampau yang jelas berbeda dengan realitas real pada masa kini. Maka yang perlu dilakukan adalah perbaharuan cara pandang kita terhadap permasalahan yang ada hari ini dibarengi dengan pembaharuan pendekatan penyelesaiannya.
Metode Learning By Doing di pandang tepat untuk para aktivis khususnya dalam lingkup organisasi. Tanpa mengesampingkan proses kaderisasi baku yang sudah ada dalam sistem perkaderan organisasi, penumbuhan kesadaran willing to do something pun perlu di dorong secara sistematis dengan mengkolaborasikan sistem baku perkaderan dan wacana gerakan sosial. Dengan demikian penerapan doktrin-doktrin organisasi tetap berjalan tanpa menghilangkan fungsi mahasiswa di dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu para aktivis juga bisa sekaligus mengasah kemampuan dirinya dengan belajar sambil melakukan yang pada akhirnya idealisme bukan hanya sekedar wacana bersama, sejarah bukan hanya romantisme masa lalu, dan gerakan perubahan bukan hanya omong kosong belaka.
#Antistasi #sebuahperlawananintelektual
tentang perlunya gerakan pembaharuan yang dilandasi oleh teori yang jelas akibat dari akumulasi keresahannya terhadap realitas sosial yang ada.
Berbicara mengenai gagasan dan gerakan pembaharu perlu kiranya kita menerobos batas-batas mitos yang hari ini sering di gaungkan oleh mahasiswa tentang romantisme sejarah angkatan 66, 74, 78 dan 98 yang pada masanya berhasil menumbangkan tirani. Bukan untuk menegasikan kebaikan sejarah yang ada tetapi akibat dari terlalu mengagung-agungkan sejarah masa lalu hanya membuat kita terjebak pada rasa bangga saja, lebih sakit lagi pada akhirnya kita tak bisa merubah apa-apa.
Sejarah menyebutkan bahwa sejak Manifesto Cordoba yang di pelopori oleh mahasiswa di Argentina pada tahun 1918 sampai pada bergulirnya revolusi revolusi (lebih lembut: Reformasi) yang terjadi di berbagai negara adalah dilandasi oleh kesadaran Realisme mahasiswa. Realisme adalah pemahaman tentang fakta/realitas secara empirik (bisa dirasakan oleh indera), faktual (terikat ruang dan waktu), serta real (melampaui kelas-kelas struktur) yang terjadi di luar dari diri pengamat (subjek: Mahasiswa). Artinya berangkat dari realitas sosial yang terjadi di lingkungan mahasiswa pada masa itu mengaktifkan kesadaran willing to do something untuk merubah keadaan yang ada.
Tentu saja sejarah di atas memiliki ruang dan waktu di masa lampau yang jelas berbeda dengan realitas real pada masa kini. Maka yang perlu dilakukan adalah perbaharuan cara pandang kita terhadap permasalahan yang ada hari ini dibarengi dengan pembaharuan pendekatan penyelesaiannya.
Metode Learning By Doing di pandang tepat untuk para aktivis khususnya dalam lingkup organisasi. Tanpa mengesampingkan proses kaderisasi baku yang sudah ada dalam sistem perkaderan organisasi, penumbuhan kesadaran willing to do something pun perlu di dorong secara sistematis dengan mengkolaborasikan sistem baku perkaderan dan wacana gerakan sosial. Dengan demikian penerapan doktrin-doktrin organisasi tetap berjalan tanpa menghilangkan fungsi mahasiswa di dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu para aktivis juga bisa sekaligus mengasah kemampuan dirinya dengan belajar sambil melakukan yang pada akhirnya idealisme bukan hanya sekedar wacana bersama, sejarah bukan hanya romantisme masa lalu, dan gerakan perubahan bukan hanya omong kosong belaka.
#Antistasi #sebuahperlawananintelektual
ROMANTISME MASA LALU, REALISME DAN WACANA PEMBAHARUAN GERAKAN MAHASISWA
Reviewed by Muhammad Ikhsan F
on
February 16, 2019
Rating:
Reviewed by Muhammad Ikhsan F
on
February 16, 2019
Rating:


No comments: