1. Pengertian.
Buat kamu yang ingin mengambil kuliah jurusan
Manajemen sebaiknya kamu harus tau dulu manajemen itu apasih? Dan apa gunanya
manajemen, padahal jurusan ini cukup sulit didapatkan karena banyaknya
peminatnya di bangku perkuliahan. Dan kadang ada yang menyesal masuk jurusn
manajemen, sebelum masuk maka kamu harus mengerti fungsi buat kamu dan orang
banyak agar tidak menyesal dikemudian hari.
Nah kita mulai dari pengertian,
Manajemen ini adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui
orang lain. Definisi Mary Parker Follet ini berarti bahwa seorang manajer
bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Nah menurut Mary Parker mah
begitu, kalau menurut Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah
proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber
daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa
tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa
tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan
jadwal. Dari penertian ini Manajemen belum memiliki definisi yang luas dan
diterima secara universal dan terus berkembang hingga saat ini.
2. Sejarah.
Sejarah yang menyebutkan tentang Manajemen sebenarnya belum
dapat dipastikan kapan persisnya. Bahkan ada yang mengusulkan bahwa manajemens
sudah ada sejak zaman Mesir kuno dengan ditandainya pembangunan Piramida giza.
Tetapi, Daniel Wren mencoba membagi evolusi pemikiran
manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal, era manajemen sains, era
manusia sosial, dan era modern
·
Pemikiran
Awal.
Pemikiran awal tentang manajemen ditandai
dengan dua kejadian penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama adalah,
pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi baru
menggantikan mazhab ekonomi Merkantilisme. Dalam bukunya The Wealth of
Nation, Adam Smith mengungkapkan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh
organisasi jika adanya pembagian kerja (division of labor) yang
diperinci ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang.
Peristiwa
penting selanjtnya adalah revolusi Indrustri Inggris. Dalam revolusi ini menandakan
bahwa kita telah menggunakan mesin, yang dapat menggantikan tenaga manusia, dan
memindahkan kegiatan produksi dari rumah-rumah produksi menajdi ke sebuah “pabrik”
perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang
dapat membantu kinerja perusahaan.
·
Era
Manajemen Ilmiah.
Pada era ini perlu diketahui bahwa mulailah
berkembangnya ilmu manajemn dari kalangan insinyur seperti Henry Towne,
Frederick Winslow Taylor, Frederick A. Halsey dan Harrington Emerson. Sedangkan
manajemen ilmiah mulai dikenalkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya, Principle
of Scientific Manajement, pada tahun 1911. Taylor
mendeskripsikan manajemen ilmiah sebagai "penggunaan metode ilmiah untuk
menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan." Beberapa
penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai
tahun lahirya teori manajemen modern.
Perkembangan selanjutnya
terjadi pada tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan
ilmu riset operasi, yang merupakan
kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset operasi, sering dikenal dengan "manajemen
sains", mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam
manajemen, khususnya di bidang logistikdan operasi. Pada
tahun 1946, Peter F. Drucker—sering disebut sebagai Bapak Ilmu Manajemen—menerbitkan
salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan: "Konsep
Korporasi" (Concept of the Corporation). Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
·
Era
Manusia sosial.
Era manusia sosial ditandai
dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral school) dalam pemikiran manajemen di akhir era manajemen sains.
Mahzab perilaku tidak mendapatkan pengakuan luas sampai tahun 1930-an. Katalis
utama dari kelahiran mahzab perilaku adalah serangkaian studi penelitian yang dikenal
sebagai eksperimen Hawthorne.
Pada tahun 1938, Chester
Barnard (1886–1961) menulis buku berjudul The Functions of the Executive yang menggambarkan sebuah teori organisasi dalam rangka
untuk merangsang orang lain memeriksa sifat sistem koperasi. Melihat perbedaan
antara motif pribadi dan organisasi, Barnard menjelaskan dikotonomi
"efektif-efisien". Menurut Barnard, efektivitas berkaitan dengan
pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu dapat
terpuaskan. Dia memandang organisasi formal sebagai sistem terpadu yang
menjadikan kerja sama, tujuan bersama, dan komunikasi sebagai elemen universal,
sementara itu pada organisasi informal, komunikasi, kekompakan, dan
pemeliharaan perasaan harga diri lebih diutamakan. Barnard juga mengembangkan
teori "penerimaan otoritas" yang didasarkan pada gagasan bahwa atasan
hanya memiliki kewenangan jika bawahan menerima otoritasnya.
·
Era
Modern.
Era modern
ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total
quality management—TQM) pada abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa
guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900–1993)
and Joseph Juran (lahir 1904).
Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di
Jepang.[9] Deming berpendapat bahwa kebanyakan
permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan pekerja, melainkan
sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan
teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat
ditingkatkan, (1) biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan,
sedikitnya kesalahan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas
waktu dan material; (2) produktivitas meningkat; (3) pangsa pasar meningkat
karena peningkatan kualitas dan penurunan harga; (4) profitabilitas perusahaan
peningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis; (5) jumlah pekerjaan meningkat.
Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya tentang
peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran. Ia
menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan karena faktor-faktor yang
sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen. Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi
manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan kualitas. Juran
mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol kualitas
yang buruk. Area tersebut kemudian dianalisis, kemudian dibuat solusi dan
diimplementasikan.
3. Teori.
·
Manajemen
Ilmiah.
Manajemen
ilmiah yang sebelumnya diperkenalkan oleh Frederick
Winslow Taylor. Keudian dikembangkan lebi jauh oleh pasangan suami istri
Frank dan Lillian Gilbreth. Mereka beruda berhasil menciptakan sebuah alat
Micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan pekerja dan
lamanya waktu yang di habiskan untuk melakukan setiap gerakan.
Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan
mata telanjang dapat diidentifikasi dengan alat ini, untuk kemudian
dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun skema klasifikasi untuk memberi
nama tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari, menggenggam, memegang)
yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka,
Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema
tersebut memungkinkan keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari
unsur-unsur setiap gerakan tangan pekerja.
Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan
mereka terhadap cara penyusunan batu bata. Sebelumnya, Frank yang bekerja
sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang pekerja melakukan 18
gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk
interior. Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu
sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang
dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata interior, ia
mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2 gerakan saja. Dengan
menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku dapat lebih produktif dan berkurang
kelelahannya di penghujung hari.
·
Pendekatan
Kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik
kuantitatif—seperti statistik, model optimasi, model informasi, atau simulasi komputer—untuk membantu manajemen mengambil keputusan. Sebagai
contoh, pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil
kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path Analysis) dapat digunakan
untuk membuat penjadwalan kerja yang lebih efesien; model kuantitas pesanan
ekonomi (economic order quantity model) membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum; dan
lain-lain.
Pengembangan
kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika dan statistik terhadap
masalah militer selama Perang Dunia II.[12] Setelah
perang berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika yang digunakan untuk
memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis.
Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki "Whiz Kids."[12] Para perwira
yang bergabung dengan Ford Motor Company pada
pertengahan 1940-an ini menggunakan metode statistik dan model kuantitatif
untuk memperbaiki pengambilan keputusan di Ford.
·
Klasifikasi.
Ada 6 macam teori manajamen diantaranya:
· Aliran
klasik: Aliran
ini mendefinisikan manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemennya.
Perhatian dan kemampuan manajemen dibutuhkan pada penerapan fungsi-fungsi
tersebut.
· Aliran
perilaku: Aliran
ini sering disebut juga aliran manajemen hubungan manusia. Aliran ini
memusatkan kajiannya pada aspek manusia dan perlunya manajemen memahami
manusia.
· Aliran
manajemen Ilmiah: aliran
ini menggunakan matematika dan ilmu statistika untuk mengembangkan teorinya.
Menurut aliran ini, pendekatan kuantitatif merupakan sarana utama dan sangat
berguna untuk menjelaskan masalah manajemen.
· Aliran
analisis sistem: Aliran
ini memfokuskan pemikiran pada masalah yang berhubungan dengan bidang lain
untuk mengembangkan teorinya.
· Aliran
manajemen berdasarkan hasil: Aliran manajemen berdasarkan hasil
diperkenalkan pertama kali oleh Peter Drucker pada awal 1950-an. Aliran ini
memfokuskan pada pemikiran hasil-hasil yang dicapai bukannya pada interaksi
kegiatan karyawan.
· Aliran
manajemen mutu: Aliran
manajemen mutu memfokuskan pemikiran pada usaha-usaha untuk mencapai kepuasan
pelanggan atau konsumen.
4. Fungsi.
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar
yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan
acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi
manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama
Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi
manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan
mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi
tiga, yaitu:
1. Perencanaan
(planning) adalah
memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan
dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara
terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana
alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang
dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan
merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa
perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
2. Pengorganisasian
(organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu
kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat
dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang
harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang
bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan harus
diambil.
3. Pengarahan
(directing) adalah
suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk
mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.
5. Prinsip.
Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur
dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan
situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori manajemen yang berasal
dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari:
1.
Pembagian kerja (division of work)
2.
Wewenang dan tanggung jawab (authority and
responsibility)
3.
Disiplin (discipline)
4.
Kesatuan perintah (unity of command)
5.
Kesatuan pengarahan (unity of direction)
6.
Mengutamakan kepentingan organisasi di atas
kepentingan sendiri (subordination of individual interests to the general
interests)
7.
Pembayaran upah yang adil (renumeration)
8.
Pemusatan (centralisation)
9.
Hierarki (hierarchy)
10. Tata
tertib (order)
11. Keadilan
(equity)
12. Stabilitas
kondisi karyawan (stability of tenure of personnel)
13. Inisiatif
(Inisiative)
14. Semangat
kesatuan (esprits de corps)
Manajemen : Pengertian, Sejarah, Teori, Fungsi, dan Prinsip
Reviewed by Mildisrup
on
September 03, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
September 03, 2019
Rating:


No comments: