![]() |
| Sumber : Pixabay.com |
Dari semua dampak perubahan iklim yang
telah dibahas, kita belum mendapatkan informasi yang cukup tentang dampak
psikologis, tinggal di dunia yang memanas. Jika membaca riset tentang buruknya
iklim karya dari komunikator sains, buku dan documenter, kita mungkin semakin
lama makin merasa taut pasrah, atau putus asa.
Jika
kita terkan dampak bencana iklim, perasaan tersebut bisa lebih parah, berujung
pada syok, trauma, hubungan yang rusak, penyalahgunaan obat dan hilangnya
identitas dan control diri kita sendiri.
Politik
dan tekonologi vital untuk menekan kekacauan iklim sedang diupayakan, tapi saya
ingin mengajak berfikir dan membuat sebuah kesadaran karena kita juga perlu
bertindak dan membuat kebijakan untuk memahami ancaman perubahan lingkungan
terhadap kesehatan mental, social, dan ketenangan batin kita.
Kecemasan,
kesedihan, depresi para ilmuwan dan aktivis iklim telah diberitakan selama
bertahun-tahun. Fenomena setelah kejadian cuaca ekstrem seperti badai Sandy
atau Katrina di Amerika, membuat keinginan bunuh diri warga Amerika Serikat
meningkat. Banyak data kesehatan mental dari komunitas belahan utara Amerika
Serikat tempat pemasanan iklim terjadi begitu terasa, seperti suku Inuit di Labrador,
yang menderita kepedihan mendalam, saaat menyaksikan es, sebagai identitas suku
mereka musnah di depan mata.
Selanjutnya,
America Psychologycal Association menyatakan bahwa respons psikologis terhadap
perubahan iklim, seperti menghindari konflik, putusa asa dan pasrah, meningkat
saat ini. Ini berarti proses mental sadar dan tidak sadar menghambat kita untuk
menggali masalah yang sebenarnya, mencari solusi dan menumbuhkan ketahanan
psikologis kita, tapi kita nutuh itu semua untuk mengatasi masalah yang kita
buat sendiri.
Dalam
sebuah penelitian di sebuah fenomena yang merupakan contoh tekanan emosional
yang sedang kita hadapi. Penelitian tersebut berbentuk sebuah pertanyaan, yang
sulit dijawab oleh beberapa orang tertentu dari generasi kita. Pertanyaannya
adalah : “Haruskah kita memiliki anak dalam era perubahan iklim?”
Anak
yang lahir hari ini harus hidup di dunia yang dilanda badai, banjir, dan
kebakaran hutan yang dulunya disebut sebagai bencana alam, terjadi di semua
tempat. 20 tahun terpanas dalam rekor terjadi dalam 22 tahun terakhir. PBB
memperkirakan bahwa 2/3 populasi didunia akan dilanda kekeringan hanya dalam
waktu 6 tahun ke depan. Bank Dunia memperkirakan pada 2050, sebanyak 140 juta
orang menjadi pengungsi iklim di gurun Sahara Afrika, Amerika Latin dan Asia
Selatan. Perkiraan lain menyatakan angkanya di atas 1 miliar migrasi massal dan
kelangkaan sumber daya meningkatkan risiko kekerasan, perang dan
ketidakstabilan politik. PBB baru saja melaporkan bahwa kita menyebabkan
punahnya 1 juta spesies, selama puluhan tahun, dan emisi kita tetap meningkat,
bahkan setelah Perjanjian Paris (Perjanjian Lingkungan Internasional).
Dalam
beberapa tahun ini, Britt Sray mengadakan lokakarya dan wawancara dengan
ratusan orang tentang pengasuhan anak di dalam krisis iklim. Dan hasil dari
wawancara tersebut adalah mereka yang khawatir memiliki anak karena perubahan
iklim, bukan karena terinspirasi kehidupan pertapa. Mereka sangat ketakutan. Bahkan
ada gerakan bernama “BirthStrike” yang mengatakan anggotanya tidak ingin
memiliki anak karena situasi krisis lingkungan dan mnimnya pemerintahan dunia
mengatasi ancaman kehidupan ini.
Ya,
generasi lain juga telah siap dengan bahaya kiamat, tapi itu bukan alasan untuk
mengabaikan ancaman nyata kelangsungan hidup saat ini. Beberapa orang
menganggap mengadopsi anak lebih baik. Atau, tidak etis memiliki lebih dari 1
anak, apalagi tiga, empat, atau lebih, karena anak-anak meningkatkan emisi gas
rumah kaca.
Ini
adalah keadaan yang tidak menguntungkan, jika orang harus mengorbankan hak anak
mereka ketika pilihan gaya hidup mereka dianggap salah, padahal kesalahannya
lebih sistemik seperti benang kusut. Butuh ketelitian dan kebijaksanaan untuk
menyelesaikan masalah ini.
Mari
kita uraikan logikanya di sini. Hasil riset yang sering dikutip menunjukkan
bukti bahwa memiliki sedikit anak di negara industry dapat mengurangi 59 ton
karbon dioksida setiap tahunnya. Sebagai perbandingannya, hidup tanpa mobil
mengurangi hamper 2,5 ton, menghindari penerbangan lintas samudra –ini baru 1
kali- mengurangi sekitar 1,5 ton, dan diet berbasis tumbuhan dapat mengurangi
hamper 1 ton per tahun.
Mari kita
renungkan, seorang anak Bangladesh, hanya menambah 56 ton metric karbon warisan
orang tua mereka sepanjang hidup mereka. Sedangkan seorang anak Amerika
menambah 9.441 ton warisan karbon. Maka beberapa orang berargumen bahwa orang
tua dari Negara dari warisan karbon besar harus benar-benar merencakan jumlah
anak mereka. Tapi keputusan untuk memiliki anak dan kepedulian terhdapa masa
depan bersifat sangat pribadi, dan terselubung dalam berbagai norma budaya,
kepercayaan agama, status sosioekonomi, tingkat pendidikan, dan lainnya.
Maka
debat tentang anak dalam krisis iklim masih terasa asing seperti sesuatu yang
asing. Banyak orang harus berjuang mangatasi kesulitan hidup, seperti berjuang
untuk mencari makan, bagi ibu tunggal dengan tiga pekerjaan, penderita HIV
positif, atau mereka dari perampok caravan migran.Tragisnya, perubahan iklim
berperan penting dalam intersektionalitas. Hal ini menambah tekanan yang
dialami oleh komunitas terpinggirkan.
Menurut
seorang ilmuwan politik, ada sebuah petunjuk penting yaitu perubahan iklim,
secara psikologis, mulai meresahkan, dengan meningkatnya jumlah wanita
berpendidikan yang tak ingin memiliki anak. Menarik.
Apakah
kita menyadari gejala psikologis ini?
Apakah
kita seorang dengan gangguan stress-trauma terkait iklim?
Seorang
psikiater iklim membuat istilah yang saat ini menjadi profesi, yaitu psikiater
gangguan iklim. Mereka mendapatkan pekerjaan saat beberapa anak SMA tidak mau
mendaftar kuliah lagi, karena mereka tidak bisa memprediksi masa depan. Situasi
ini sesuai dengan poin utama tulisan ini.
Meningkatnya
kekhawatiran memiliki anak dalam krisis iklim adalah pertanda mendesak dari
orang-orang yang tertekan. Sekarang, pelajar di seluruh dunia berteriak ingin
perubahan dengan suara nyaring penuh keputusasaan.
Kenyataannya, kontribusi kita terhadap masalah ini,
yang membuat kita tidak aman, benar-benar membuat gila. Perubahan mempengaruhi
semua bidang dan mengacaukan pikiran kita.. Banyak aktivis mengatakan obat
terbaik penyembuh kesedihan adalah aktivisme. Beberapa psikolog berpendapat,
obatnya adalah terapi. Ada juga yang percaya, kuncinya adalah membahayakan kita
yaitu, melakukan kilas balik kehidupan dari dalam peti mati sehingga kita dapat
melakukan lebih banyak tindakan dengan waktu yang tersisa.
Kita butuh semua ide ini, lebih banyak, untuk merenung
lebih dalam karena lingkungan yang kita kenal semakin menghukum kita. Memiliki
anak maupun tidak, kita harus jujur tentang fenomena yang sedang terjadi, dan
hutang moral antar sesama. Kita tidak mampu membuat dampak psikologis perubahan
iklim sebagai wacana, karena hal-hal lain seperti sains, teknologi, politik,
dan ekonomi tampak lebih krusial daripada dampak iklim.
Kesehatan mental harus menjadi bagian utuh dari
strategi pertahan perubahan iklim, yang membutuhkan dana, etika keadilan dan
pelayanan, serta kepedulian dari semua pihak. Karena, meskipun kamu pembaca
artikel ini adalah tipe penghindar emosi terbesar di Bumi, tidak ada karpet
yang cukup besar untuk bersembunyi dari masalah ini.
Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Kesehatan Mental Kita.
Reviewed by Mildisrup
on
October 03, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
October 03, 2019
Rating:


Hal yang paling pasti didunia ini adalah ketidakpastian... jadi jangan takut akan ketidakpastian masa depan,.. nice blog gan
ReplyDeleteiya terima kasih telah mengunjungi blog ini. :)
ReplyDelete