![]() |
| cow. sumber : piabay.com |
Pada tahun
2019, umat manusia mendapatkan peringatan, sebanyak 30 ilmuwan terkenal di
dunia merilis hasil penelitian masif agrikultur global yang dilakukan selama
tiga tahun yang menyatakan bahwa produksi daging merusak planet Bumi dan
membahayakan kesehatan umum.
Salah satu
penulis penelitian yaitu Dr. Johan Rockstrom menjelaskan “umat manuia saat ini
menjadi ancaman bagi keseimbangan planet, untuk mengatasi itu kita perlu
revolusi baru agrikultur global.” Hal ini
ditanggapi oleh Bruce Friedrich seorang innovator makanan yang memberikan advokasi
transformasi produksi insdrustridaging, “saya yakin peringatan tersebut akan
membuat perubahan, saya melihat.”
Dalam beberapa
tahun lalu topik tersebut telah diulas dalam kurun waktu beberapa decade. Pada tahun
2018 diulas dalam jurnal “Nature” dengan judul Huge reduction in meat- eating ‘esential’
to aoid climate breakdown. Tahun 2017 dalam “ Bioscience Journal” dengan judul “
16.000 scientists sign dire warning to humanity over health of planet”. Tahun 2016
dalam “The National Academy of Science”dengan judul The profound planetary
consequences of eating less meat”
Gagasan
utama penelitian ini mengarah kepada perubahan iklim. Namun ketahanan antibiotic
juga merupakan ancaman besar. Kita memberi dosis antibiotic hewan ternak, dalam
jumlah massif. Lalu antibiotic ini bermutasi menjadi “superbug” yang menajdi
ancaman bagi antibiotik lama di dalam kehidupan manusia. Apakah kalian tidak
percaya? Ingin bukti mengejutkan?
Silahkan gunakan pencarian google dengan kata kunci “ the end of working antibiotics.” Maka kamu akan melihat laporan bahwa antibiotik kita berhenti bekerja dalam berbagai laporan.
Saya tidak
akan memaksa, saya menulis ini bukan untuk mendikte pilihan makanan kita. Aksi individu
itu hebat, tetapi resistensi antibiotik dan perubahan iklim memerlukan lebih
banyak aksi. Selain itu, meyakinkan dunia untuk mengurangi konsumsi daging
belum berhasil.
![]() |
| sheep. Sumber : piabay.com |
Selama 50 tahun, ahli lingkungan,
ahli kesehatan global dan aktivis hewan meminta masyarakat mengurangi konsumsi
daging. Namun, konsumsi daging per kapita sama tingginya dengan angka yang
tercatat di dalam sejarah. Rata-rata orang Amerika Utara tahun 2018 memakan
sekitar 90 kg daging. Dengan pola makan seperti itu, kita perlu meningkatkan
produksi daging 70 sampai 100 persen pada tahun 2050.
Hal ini memerlukan solusi global.
Yang kita harus lakukan adalah memproduksidagng yang disukai orang, namun
diproduksi dengan cara yang baru. Ada dua ide brilian yang ditawarkan negara
maju dalam menyelesaikan masalah ini.
Ide yang pertama adalah membuat
daging dari tanaman. Daripada menggunakan tanaman sebagai pakan ternakyang
tidak efesien, kita bias membudidayakan tanaman untuk membuat daging rekayasa yang
terbuat dari tanaman, kita bias membuat daging nabati.
Ide kedua: untuk daging hewani,
kita bias membiakkan langsung dari selnya. Daripada bertenak hewan, kita bias langsung
membiakkan selnya. Buth waktu 6 minggu agar ayam layak disembelih. Pembiakkan sel
secara langsung, hanya membutuhkan waktu enam hari.
Saya ingin menjabarkan dua hal. Poin
pertama, kita bias melakukannya. Akhir-akhir ini, beberapa perusahaan barat
memproduksi daging nabati yang sulit dibedakan dengan daging hewani. Dan sekarang
sudah banyak perusahaan barat yag membiakkan daging hewani langsung dari
selnya. Dagng nabati dan daging berbasis sel akan memberikan solusi tentang masalah
antibiotik dan dampak buruk terhadap iklim yang sangat kecil. Dan karena dua
teknologi ini jauh lebih efesien, pada skala produksi produk ini akan lebih
murah.
Tetapi satu poin lagi yang ingin
saya sampaikan, hal ini akan sulit dilakukan tanpa kesadaran tiap individu, peternak
dan pemerintahan.
Revolusi Agrikultur
Reviewed by Mildisrup
on
October 18, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
October 18, 2019
Rating:




No comments: