Jadi
salah satu solusi repenting untuk peruabhan iklim yang menjadi masalah global
berada di bawah kaki kita setiap hari. Itu tanah. Tanah hanyalah selubung yang
menutupi permukaan bumi, tetapi memiliki kekuatan untuk memebentuk nasib planet
kita. Sekitar 2 meter tanah, tanah gembur yang menutupi permukaan tanah,
merupakan perbedaan antara ada tidak
adanya kehidupan di Bumi. Satu sendok tanah yang sehat, memiliki bakteri
sejumlah manusia yang ada di Bumi, sekitar 7,5 miliar mikroorganisme. Tanah
serta dapat membantu kita melawan perubaha iklim jika kita bisa berhenti
menganggapnya seperti kotoran.
Perubahan
iklim sedang terjadi, atmosfer bumi sedang memanas akibat kadar gas rumah kaca
yang meningkat yang terus kita (manusia) lepaskan ke atmosfer. Kalian semua
tahu itu. Setidaknya pernah mendengar, walau kadang acuh. Tteapi jarang ada
yang mengetahui bahwa salah satu hal terpenting yag bisa dilakukan manusia
untuk melawan perubahan iklim berada di tanah. Asmeret Asefaw B, adalah salah
satu imuwan yang meneliti tanah sejak umur 18 tahun, dan memberikan orang untuk
memahami solusi perubahan iklim ini.
Gambar
di atas adalah fakta tentang perubahan iklim. Konsentrasi karbon dioksida di
atmosfer bumi telah meningkat sebanyak 40 persen dalam 150 tahun terakhir.
Tindakan manusia sekarang melepaskan 9,4 miliar ton karbon ke atmosfer, dari
tindakan seperti membakar bahan bakar fosil dan pertanian, serta cara lain kita
mngubah cara lain menggunakan tanah, termasuk penggundulan hutan. Tetapi
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer hanya meningkat sebanyak setengah dari
itu, dan itu karena setengah dari karbon yang kita lepaskan ke atmosfer sedang
diresap oleh tanah dan laut, melalui proses yang dikenal sebagai sekuestrasi
karbon. Jadiintinya, konsentrasi yang menurut kita yang sedang dihadapi akibat
perubahan iklim sekarang, hanya merupaka konsekuensi dari 50% dari pencemaran
kita, karena ekosistem alami sedang membantu kita.
Tapi
jangan terlalu nyaman dulu, karena ada dua masalah yang dihadapi kita. Satu,
jika kita tidak melakukan sesuatu yang besar, secepat-cepatnya, emisi akan
terus naik. Dan kedua, kemampuan dari ekosistem alami untuk menyerap karbon
dioksida dari atmosfer dan menyimpan di habitat alami sedang diancam, karena
tindakan manusia menimbulkan banyak kerusakan. Jadi belum tentu kita terus bisa
bergantung pada ekosistem alami jika kita terus menjalani jalur seperti ini.
Di
atas adalah peran tanah: ada sekitar 3 ribu miliar ton karbon di tanah. Itu
sekitar 315 kali jumlah karbon yang kita lepaskan ke atmosfer sekarang. Dan ada
dua kali karbon di tanah disbanding tanaman dan udara. Coba kita pikirkan
tentang itu.
Ada lebih banyak karbon di tanah
daripada semua tanaman yang ada di dunia, termasuk hutan hujan rindang, padang
rumput luas, dan semua sistem yag diolah, dan setiap macam flora yang bisa kita
pikirkan di muka bumi, ditambah semua karbon yang di atmosfer, digabung, lalu
dikali dua. Oleh karena itu, perbedaan kecil dalam jumlah karbon yang terdapat
di tanah bisa membuat pengaruh besar terhadap jumlah karbon di atmosfer bumi.
Tetapi tanah tidak hanya tempat
penyimpanan karbon. Tanah bagaikan rekening Bank, dan jumlah karon yang berada
di tanah pada waktu tertentu merupakan fungsi dari jumlah karbon yang masuk dan
keluar dari tanah. Karbon datang dari tanah melalui proses fotosintesis, dimana
tanaman hijau mengambil karbon dioksida dari atmosfer, dan menggunakannya untuk
membuat tubuhnya, dan saat tanamannya mati, tubuhnya memasuki tanah. Dan karbon
meninggalkan tanah dan kembali ke atmosfer, dimana tubuh organisme yang dulunya
hidup sekarang membusuk di tanah dengan aktivitas para mikroba.
Jadi, pembusukan melepaskan karbon
dioksida ke atmosfer, serta gas rumah kaca lainnya seperti mtana, dan
dinitrogen monoksida, tetapi juga melepaskan semua nutrient yang kita perlukan
untuk bertahan hidup. Salah satu hal yang membuat tanah bagian penting dari
strategi mitigasi perubahan iklim apapun adalah karena tanah menajdi penyimpanan
jangka lama. Karbon yang mungkin bertahan setahun dan dua tahun dalam sisa
hasil pembususkan jika ditinggalkan di permukaan bisa tinggal di tanah selama
ratusan hingga ribuan tahun.
Para ahli biogeokimia seperti Asmeret
Asefaw mempelajari bagaimana sistem tanah memungkinkan mengunci karbonnya dalam
hubungan fisik dengan mineral, di dalam kumpulan mineral tanah, dan pembentukan
ikatan kimia erat yang mengikat karbonnya dengan permukaan mineralnya. Jadi
saat karbon terperangkap di tanah, dalam jenis asosiasi bersama mineral di
tanah, bahkan mikroba yang paling gigih tidak bisa mengancurkannya. Dan karbon
yang hancurnya masih lama adalah karbon yang tidak kembali ke atosfer sebagai
gas rumah kaca.
Konsekuensi dari sekuentrasi karbon
(penyerapan karbon di atmosfer ke tanah) tidak hanya terbatas pada mitigas
perubahan iklim. Tetapi, tanah yang mneyimpan banyak karbon menjadi sehat,
subur, dan lembut. Tanahnya lunak, gembur bagai spons dan berwarna hitam. Tanah
yang kaya akan karbon dapat menyimpan banyak air dan nutrien. Tanah yang subur
dan sehat mmapu mendukung habitat untuk kehidupan yang paling beragam yang kita
ketahui dimuka Bumi. Tanah ini juga memugkinkan kehidupan untuk mikroba
terkecil, seperti bakteri dan fungi, hungga tanaman besar dan memebuhi
kebutuhan makanan dan fiber untuk semua hewan, dan juga manusia.
Jadi sekarang, mungkin kita berfikir
bahwa kita seharsunya mengganggap tanah sebagai sumber daya yang berharga.
Sedihnya, tanah dibiarkan begitu saja. Tanah disuluruh dunia sednag mengalami
kerusakan yang parah melalui berbagai tindakan manusia yang termasuk
oengundulan hutan, sistem produksi agrikultur yag berlebihan, kehilangan
tanaman, dan berbagai kimia agrikultur yang berlebihan, erosi, dan lain-lain.
Setengah dari tanah di dunia sudah termasuk rusak. Kerusakan tanah buruk,
karena berbagai alasan.
Berikut adalah kerusakan yang
dialami tanah:
Satu, tanah yang rusak kurang bisa
mendukung produktifitas tanaman. Dan merusak tanah, kita sedang membahayakan kita
untuk menghasilkan makanan dan sumber daya yang dibtuhkan manusia dan makhluk
lainnya di permukaan bumi. Kedua, penggunaan dan kerusakan tanah, pada 200
tahun belakangan ini tellah melepaskan 12 kali lebih banyak karbon ke atmosfer
dibanding jumlah karbon kita lepaskan ke atmosfer sekarang.
Masih ada kabar buruk lain. Ini
adalah cerita tentang tanah di daerah utara. Tanah gambut di lingkungan kutub
menyimpan sekitar sepertiga dari karbon di tanah. Tanah gambut di atas
mempunyai tanah yang beku dibawahnya, yang disebut permafrost, dan karbonnya
menumpuk di tanah ini sedikit demi sedikit karena meskipun tanaman bisa
berfotosentesisi pada bulan kemarau yang pendek dan hangat, lingkungannya cepat
berubah menjadi dingin dan gelap, lalu mikroba tidak bisa menghancurkan
sisa-sisanya.
Jadi bank karbon di tanah di
lingkungan kutub ini dibangun selama ribuan tahun. Tetapi sekarang, dengan
pemanasan atmosfer, permafrostnya mencair dan menguras. Dan saat permafrostnya
mencair dan menguras, para mikroba bisa menghancurkan semua karbon ini dengan
cepat, yang memungkinkan ratusan dari miliaran ton karbon dilepaskan ke
atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca. Dan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer
yang berkelanjutan hanya akan memeperkarah pemanasan, yang membuat keadaan
semakin buruk, karena memulai siklus balik positif yang terus-menerus yang bisa
terus berlangung dan megubah masa depan iklim kita.
Solusi Perubahan Iklim Salah Satunya Ada di Bawah Kaki Kita
Reviewed by Mildisrup
on
November 21, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
November 21, 2019
Rating:





Bahasa bahasa ilmiahnya banyak yang belum diterjemahkan secara jelas ,sehingga membuat saya selaku pembaca yang tidak paham akan dunia lingkungan tidak mengerti
ReplyDelete