![]() |
| Sumber : pixabay.com |
Gagasan kita sekarang mengenai gerak
benda bisa ditelusuri balik ke Galileo dan Newton. Sebelum mereka, orang
percaya kepada Aristoteles, ia mengatakan bahwa keadaan alami suatu benda
adalah diam dan benda hanya bergerak kalau didorong suatu gaya atau impuls.
Jadi, berat benda akan jatuh lebih cepat daripada benda-benda ringan, karena
benda berat memiliki gaya tarik lebih besar menuju bumi.
Tradisi Aristoteles juga mengatakan
bahwa semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran
saja: pembuktian dan pengamatan tak diperlukan. Jadi, sampai ada Galileo, tak
seorang pun repot-repot memeriksa apakah benda yang berat berbeda-beda memang
benar jatuh dengan kecepatan berbeda. Galileo membuktikan bahwa pendapat
Aristoteles keliru dengan menjatuhkan benda dari menara miring Pisa. Cerita itu
hampir pasti tak benar, tapi Galileo melakukan sesuatu yang serupa. Dia
menggelindingkan bola bola dengan berat berbeda-beda di bidang miring yang
mulus. Keadaannya sama dengan berat benda yang jatuh vertikal, tapi
pengamatannya lebih mudah karena kecepatan lebih kecil. Pengukuran Galileo
menunjukkan bahwa tiap benda mengalami pertambahan kecepatan (percepatan) yang
sama, tak peduli berapapun beratnya. Contoh, jika kita taruh bola di bidang
miring yang ketinggiannya turun 1 meter untuk setiap panjang lintasan 10 m,
bola akan menuruni bidang miring dengan kecepatan sekitar 1 meter per detik
sesudah 1 detik, 2 meter per detik sesudah 2 detik, dan seterusnya, seberat
apapun bolanya. Tentu saja pemberat timbal bakal jatuh lebih cepat daripada
bulu, tapi itu karena jatuhnya bulu diperlambat tekanan udara. Jika dijatuhkan
dua benda yang sama-sama tak mengalami banyak tahanan udara, seperti dua
pemberat timbal, maka kecepatan jatuhnya akan sama. Di bulan, di mana tak ada
udara yang menghambat jatuhnya benda, Astronaut David R. Scott melakukan
percobaan menjatuhkan bulu dan pemberat timbal, dan mendapati bahwa keduanya
memang saling sampai ke tanah dengan waktu yang sama.
Pengukuran Galileo digunakan oleh
Newton sebagai dasar hukum gerak. Dalam percobaan percobaan Galileo, selagi
suatu benda menggelinding menuruni lereng, benda itu selalu terpengaruh gaya
yang sama (berat benda), dan efeknya adalah membuat percepatan. Itu menunjukkan
bahwa efek sebenarnya suatu Gaya adalah selalu mengubah kecepatan suatu benda,
bukan membuat benda bergerak sebagaimana
dahulu dikira. Itu juga berarti bahwa kalau suatu benda tanpa terkena
pengaruh suatu gaya, maka benda itu akan terus bergerak dalam lintasan lurus
dengan kecepatan yang sama. Gagasan itu pertama kali dinyatakan secara tersurat
dalam Principia Mathematica Newton, yang terbit pada 1687, dan dikenal
sebagai hukum pertama Newton. Yang terjadi kepada suatu benda ketika
dipengaruhi suatu gaya dijelaskan oleh hukum kedua Newton. Hukum kedua Newton
menyatakan bahwa benda akan mengalami percepatan, atau perubahan kecepatan dan
sebanding dengan gaya yang mempengaruhinya. (Misalnya, percepatan menjadi dua
kali lipat apabila gaya yang menyebabkan jadi dua kali lipat lebih besar.)
Percepatan juga menjadi lebih kecil apabila massa atau jumlah zat benda lebih
besar. (Gaya yang sama pada benda menjadi massa 2 kali lebih besar akan
menghasilkan percepatan setengah sebelumnya.) Contoh yang familiar adalah
mobil: tapi makin berat mobilnya, percepatan makin kecil untuk mesin yang sama.
Selain hukum-hukum gerak, Newton menemukan suatu hukum untuk menjabarkan gaya
gravitasi, ia mengatakan bahwa tiap benda menarik semua benda lain dengan gaya
yang sebanding dengan massa setiap benda. Jadi, gaya antara dua benda kiranya
dua kali lebih kuat jika salah satu benda ada (misalnya benda A) massanya
menjadi 2 kali lebih besar. Memang seperti itu yang diperkirakan, karena benda
A baru bisa dipandang sebagai dua benda dengan massa awal. Tiap benda bakal menarik
benda B dengan gaya sebesar gaya awal. Maka total gaya antara A dan B adalah
dua kali lipat gaya awal. Dan misalnya 1 benda massanya menjadi 2 kali lipat,
dan benda lain massanya menjadi 3 kali lipat, maka gaya menjadi 6 kali lebih
kuat. Bisa dilihat Mengapa semua benda jatuh dengan kecepatan yang sama: benda
yang beratnya 2 kali lipat akan menerima tarikan gaya gravitasi yang
menjatuhkan nya sebesar 2 kali lipat, tapi masa nya juga dua kali lebih besar.
Menurut hukum kedua Newton, kedua Efek itu akan tepat saling meniadakan, jadi
kecepatan akan sama di semua kasus.
Hukum gravitasi Newton Memberitahu
kita bahwa makin jauh jarak antar benda, makin kecil gaya gravitasi antara
antara keduanya. Menurut hukum gravitasi Newton, tarikan gravitasi suatu bintang
pada jarak tertentu tepat seperempat tarikan gravitasi bintang berukuran serupa
pada jarak setengah jarak semula. Hukum tersebut memprediksi orbit bumi, bulan
dan planet-planet dengan sangat akurat. Jika tarikan gravitasi suatu bintang
berkurang atau meningkat lebih cepat seiring perubahan jarak, maka orbit planet
tak bakal berupa elips, dan planet-planet bakal jatuh ke matahari dan lepas
dari matahari.
Perbedaan besar antara gagasan dari
Aristoteles dan gagasan Galileo atau Newton adalah bahwa Aristoteles percaya
keadaan diam adalah wajar, dan benda apapun akan diam jika didorong oleh suatu
gaya atau impuls. Aristoteles menganggap bumi diam. Tapi berdasarkan hukum
Newton tak ada standar keadaan diam yang unik. Bisa dikatakan bahwa benda A dan
benda B bergerak dengan kecepatan tetap terhadap benda A, atau sebaliknya benda
B diam dan benda A bergerak. Contohnya. Jika rotasi bumi dan orbitnya
mengelilingi matahari dikesampingkan sejenak, dapat dikatakan bahwa bumi dalam
keadaan diam dan kereta api di atasnya bergerak ke utara dengan kecepatan 90
mil per jam, atau kereta api diam dan bumi bergerak ke selatan dengan kecepatan
90 mil per jam. Jika di atas kereta api di lakukan percobaan dengan benda
bergerak, semua Hukum Newton kiranya masih berlaku. Contohnya, jika kita
bermain ping-pong di atas kereta api, bolanya mematuhi Hukum Newton sama
seperti bola pingpong yang dimainkan di meja di sebelah rel. Jadi ada cara yang
mengetahui apakah yang bergerak itu kereta api atau Bumi.
Ketiadaan acuan diam yang mutlak
berarti kita tak bisa memastikan apakah dua peristiwa yang terjadi pada waktu
berbeda terjadi di posisi yang sama dalam ruang. Contoh, anggap bola pingpong
di kereta api melambung naik lurus lalu turun, memantul di meja dua kali di
titik yang sama dengan jarak 2 detik antar kedua pantulan. Bagi orang di
pinggir rel kereta api, kedua pantulan tampak terpisah jarak sekitar 40 meter,
karena kereta api sudah bergerak sejauh itu di rel dalam jangka waktu antara
pantulan pertama dan kedua. Oleh karena itu, tiadanya acuan dia mutlak berarti
kita tak bisa memberi posisi mutlak dalam ruang kepada suatu peristiwa, seperti
dulu dipercaya Aristoteles. Posisi peristiwa-peristiwa dan jarak antar
peristiwa kiranya berbeda bagi orang di atas kereta api dan orang di pinggir
rel, dan tak ada alasan posisi yang satu harus dianggap lebih tepat dijadikan
acuan daripada yang lain.
Newton sangat khawatir dengan
tiadanya posisi mutlak, atau yang disebut Tuhan mutlak (Absolute Space),
karena tidak cocok dengan gagasannya mengenai Tuhan yang mutlak. Dia malah
menolak menerima ketiadaan ruang mutlak, walau hukumnya sendiri menyatakan
demikian. Newton dikritik pedas karena keyakinan tak rasional itu oleh banyak orang,
terutama Uskup Berkelley, seorang filsuf yang percaya bahwa semua benda dan
ruang dan waktu adalah ilusi. Ketika dokter Samuel Johnson yang terkenal diberitahu
mengenai pendapat Berkey, dia berseru, " kusangkal dengan cara seperti
ini!, " lalu dia menendang batu besar.
Aristoteles dan Newton sama-sama
percaya akan adanya waktu mutlak (Absolute Time.) Artinya, mereka
percaya bahwa kita bisa mengukur jangka waktu antara dua peristiwa dengan
tepat, dan jangka waktu itu bakal selalu sama tanpa peduli siapa yang
mengukurnya, asalkan menggunakan arloji yang bagus. Waktu sepenuhnya terpisah
dengan ruang. itulah yang sebagai besar
sebagai pandangan akal sehat. Namun kita sudah harus mengubah gagasan kita
mengenai ruang dan waktu. Walau gagasan akal sehat kita ampuh menangani
benda-benda seperti apel atau planet yang bergerak relatif lambat, gagasan itu tak
berlaku bagi benda-benda yang bergerak pada atau dekat kecepatan cahaya.
Kenyataannya bahwa cahaya bergerak
dengan kecepatan tertentu yang amat tinggi pertama kali ditemukan pada 1676 oleh
ahli astronomi Denmark oleh Christensen Roemer. Roemer mengamati bahwa waktu
lewatnya bulan bulan Jupiter di belakang Jupiter tidak berjarak seragam,
sebagaimana yang diperkirakan jika bulan bulan itu mengelilingi Jupiter dengan
kecepatan tetap. Selagi bumi dan jupiter mengelilingi matahari, jarak antara
keduanya berubah-rubah. Mengamati bahwa gerhana bulan bulan Jupiter muncul
lebih belakangan apabila bumi sedang jauh dari Jupiter. Menurutnya itu karena
cahaya dari bulan bulan Jupiter perlu waktu lebih banyak untuk mencapai kita
ketika kita lebih jauh. Tapi pengukuran polimer mengatakan variasi jarak bumi
ke Jupiter kurang akurat, sehingga Besar kecepatan cahaya yang dia dapatkan
adalah 140000 mil per detik atau atau 225.300 km/detik, berbeda dengan nilai
modern yakni 180.000 mil per detik atau 300.000 km/detik. Namun prestasi Roemer,
bukan hanya dalam membuktikan bahwa cahaya bergerak dengan kecepatan tertentu,
melainkan juga dalam mengukur kecepatan itu, memang luar biasa karena dilakukan
11 tahun sebelum penerbitan Prinsipia Mathematica karya Newton. Teori
penyebaran cahaya yang layak belum ada sampai 1865, ketika ahli fisika Britania
James Maxwell berhasil memadukan teori-teori yang sampai waktu itu telah
digunakan untuk menjabarkan gaya listrik dan magnet. Persamaan persamaan
Maxwell memprediksi bahwa dalam medan gabungan elektromagnetik dapat terjadi
gangguan seperti gelombang, dan gangguan itu bakal bergerak dengan kecepatan
tetap, seperti riak kolam. Jika panjang gelombang tersebut (jarak antara satu puncak
gelombang dengan puncak berikutnya) adalah 1 M atau lebih, gelombang itu kita
sebut gelombang radio. Gelombang lebih pendek dikenal dengan gelombang mikro (beberapa
cm), atau inframerah (di atas satu per sepuluh ribu sentimeter). Cahaya tampak
punya panjang gelombang antara 40 dan 80 per sejuta cm. Gelombang yang panjang
gelombang lebih pendek lagi di kenal dengan ultraviolet, sinar-x tanda sinar
gamma.
Teori Maxwell memprediksi bahwa
gelombang radio atau cahaya dapat bergerak dengan kecepatan tertentu. Tapi
teori Newton menyingkirkan keadaan diam mutlak, jadi jika cahaya dianggap
bergerak dengan kecepatan tertentu, harus dijelaskan terhadap apakah kecepatan
tertentu itu diukur.
Oleh karena itu diusulkan bahwa ada
zat yang disebut “ether”yang ada
dimana-mana, bahkan di ruang “hampa”. Gelombang cahaya merambat melalui “ether”
seperti gelombang bunyi merambat melalui udara, sehingga kecepatan cahaya dianggap
relatif terhadap ether. Pengamatan-pengamatan yang berbeda, yang bergerak
relatif terhadap bakal melihat cahaya mendekati dengan berbagai kecepatan, tapi
kecepatan cahaya relatif terhadap eter terhadap akal tetapi. Khususnya, selagi
bumi bergerak melalui ether ketika mengelilingi matahari, kecepatan cahaya yang
diukur berdasarkan arah gerak bumi melalui ether (ketika kita bergerak ke arah
sumber cahaya) Seharusnya lebih tinggi daripada kecepatan cahaya pada arah
siku-siku terhadap gerak itu (ketika kita tak bergerak ke arah Sumber Cahaya.)
Pada 1887, Albert mickelson yang belakangan menjadi orang Amerika pertama yang
menerima hadiah Nobel fisika dan Edward morley melaksanakan percobaan sangat
suka sama Dika School of applied sciences di Cleveland. Mickelson dan morley
membandingkan kecepatan cahaya yang searah dengan gerak bumi dengan membentuk
sudut siku-siku dengan arah gerak bumi. Yang membuat mereka kaget dan mereka
menemukan bahwa kecepatan cahaya selalu sama!
Antara 1887 dan 1905 ada beberapa
usaha, yang paling utama oleh ahli fisika Belanda Hendrik Lorenz, untuk menjelaskan
hasil percobaan Michelon dan Morley sebagai sebagai akibat benda mengerut dan
arloji melambat ketika bergerak melalui ether. Namun, dalam suatu makalah
termasuk pada 1905, seorang tulis kantor paten Swiss yang ketika itu belum
dikenal, Albert Einstein, menunjukkan bahwa keseluruhan gagasan ether tak
diperlukan, asalkan gagasan waktu mutlak ditinggalkan. Hal yang sama diajukan
kembali beberapa minggu sesudahnya oleh seorang ahli matematika dari Perancis,
Hendri Poincare. Yang menganggap persoalan itu bersifat matematis. Biasanya
dianggap sebagai penggagas teori baru, tapi Poincare dikenang karena namanya
tercantum di satu bagian penting teori itu.
Dalil dasar teori relativitas,
sebagaimana teori itu disebut, adalah bahwa hukum-hukum sains seharusnya sama
bagi semua pengamat yang bergerak bebas, beberapa berapapun kecepatannya. Itu
berlaku untuk hukum gerak Newton; tapi gagasan itu lalu diperluas untuk
mencakup teori Maxwell dan kecepatan cahaya: semua pengamat harus mengukur
kecepatan cahaya yang sama tanpa peduli secepat apa mereka bergerak. Gagasan sederhana
itu punya beberapa konsekuensi luar biasa. Barangkali yang paling dikenal
adalah penyetaraan massa dan energi, yang dirangkum dalam persamaan terkenal
Einstein, E = MC2 (di mana E adalah energi, M adalah massa, C adalah
kecepatan cahaya,) dan hukum bahwa tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat
daripada kecepatan cahaya. Karena ada penyetaraan energi dan massa maka energi
yang dimiliki suatu benda karena geraknya akan menambah massa. Dengan kata lain
kecepatan benda itu akan makin susah bertambah. Efek ini hanya signifikan bagi
benda benda yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.
Contohnya, pada 10% kecepatan cahaya, maka suatu benda hanya 0,5% lebih besar
jadi pada masa normalnya, sementara pada 90% kecepatan cahaya massa benda itu
lebih dari dua kali lipat masa normalnya. Selagi suatu benda mendekati
kecepatan cahaya dan massanya meningkat makin cepat sehingga diperlukan makin
banyak energi untuk terus mempercepatnya. Malah benda itu tak akan pernah
mencapai kecepatan cahaya, karena pada kecepatan cahaya massanya bakal tak
terhingga, dan Berdasarkan pernyataan massa dan energi, diperlukan energi energi
dengan jumlah tak terhingga untuk mendorong ya kan keadaan itu. Karena alasan
itu benda normal selalu terbatas oleh relativitas untuk bergerak pada kecepatan
di bawah kecepatan cahaya. Hanya cahaya atau gelombang lain yang tak punya masa
intrinsik yang bisa bergerak pada kecepatan cahaya.
A Brief History of Time: Ruang dan Waktu (1)
Reviewed by Mildisrup
on
January 04, 2020
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
January 04, 2020
Rating:


No comments: