![]() |
| Cinta segala sesuatu |
“Aku ragu antara ada dan tiadaku, namun cinta mengumumkanku ada” (Pendiri Negara Pakistan; Muhammad Iqbal)
Saya menengok ke samping dan saya menjumpai seorang kakak tingkat sedang dudukdi tangga samping foto kopian Ruang ber-AC. Saya menyapanya,'teh, ada apa? Kenapa engkau duduk termenung di situ layaknya seorang putri menunggu pinangan?'. Dia menjawab, “ Enggak, lagi nunggu foto kopi bahan ujian kok.”
Saya menengok ke arah yang dia tunjuk.Saya kemudian metihat sebuah ruangan sempit berukuran 2 x 8 m yang sedang berjejal manusia, mesin foto kopi dan motekul-molekul oksigen yang mulai beranjak tipis. Saya yakin di antara mereka ada yang mulai megap-megap. Asal jangan sampai ada yang pingsan saja, nanti dikira konser lagi,
“Rame yadi foto kopian kalau menjelang ujian?” celetuk saya mulai mencari-cari bahan diskusi yang (mudah-mudahan) berbobot.
“lya sih. Ini anak-anak memang kalau mau ujian selalu kelimpungan nyari bahan. Yah dengan berbagai alasan: ada yang bilang handout baru diberikan dosen pada saat akhir, adayang beralasan catatannya nggak lengkap tapi alasan yang paling banyak sih males nyatet. Jadi ajah motokopi catatan temen semuah.” ujarnya dengan sorot mata serius yang bersinar dari balik kaca matanya yang kelabu.
Otak usil saya mulai bertanya-tanya, “Teh,kalau mereka nggak pernah nyatet pelajaran dari dosen, ,mereka belajarnya kapan dong?". Saya berharap kalau si Teteh akan menjawab bahwa mahasiswa itu sudah dewasa. Mereka tidak belajar lagi dari (hanya) yang diberikan dari dosen.Saya “berharap bahwa si Teteh akan bilang bahwa sebagian besar waktu yang mahasiswa gunakan adalah untuk mencari bahan-bahan pembanding entah dari jumal seperti Harvard Business Review atau Warta Ekonomi, atau artikel dari Google.com, atau memperluas bahan referensi dari literatur alternatifnya Joseph Stiglitz, Al Ries, Jack Trout, Yusuf Qardawi, Mankiw, Dr. Muhammad Iqbal sampai dengan Umer Chapra, atau mereka lebih banyak belajar dari diskusi-diskusi yang mencerahkan dan menggelisahkan di pojok-pojok kampus dengan nuansa heroisme yang gagah seperli tulisan-tulisannya Emha Ainun Nadjib,Goenawan Mohammad, Ernesto Guevarra, AI Maududi atau Ali Syariati sehingga pelajaran dari dosen bukan kamus utama mereka. Ternyata dugaan saya....
“Ya,sehari...ups... semalam menjelang ujian. Terkadang itu pun dengan mata yang sudah berat dan disertai harapan-harapan konyol bahwa besok siapa tau ujian ditunda. Ditambah lagi ternyata foto kopian teman teh kadang-kadang sudah merupakan foto kopi dari foto kopi dari foto kopi. Jadi tambah tidak jelas,” kata si Teteh dengan santai dan dengan mimik innocent.
Tetong...Yah melayang deh dari benak saya tentang mahasiswa yang fasih bicara tentang Teori Agregat Demand-nya Friedmann sambil tidak lupa mengutip kritik pedasnya Paul Ormerod pada teori itu. Atau dengan cerdas sang mahasiswa bicara tentang Teori Motivasi Dua Faktor-nya Heyzberg sambil berterima kasih atas sumbangan Maslow, Mc Lelland dan Freud untuk bidang yang serupa. Melayang juga dari fikiran saya yang lugu itu tentang mahasiswayang pandai bercerita tentang Dialektika Hegelian dan juga ingat bait-bait yang memukau di Nahjul Balaghah-nya lmam Ali maupun sajak-sajak humanisnya Mohammad lqbal. Atau saya yang terlalu jauh berkhayal, karena temyata idealisme selamanya tidak pernah menemui jodohnya ditataran realita? Miripseperti awan-awan terbang yang berarakdilangit biru untuk terus berlai tanpa pernah menemui kekasihnya sang hujan?
“Lho, apa mereka nggak khawatir nilai-nilai ujiannya "mengecewakan", alo"mengecewakan” kan IPK-nya jeblok. Kalau IPK jeblokkan mereka tidak akan diterima di Ernst and Young, Telkom atau Bl? Apa mereka nggak khawatir kesejahteraan mereka di hari tua terancam?”cerocos saya seperti anak TK yang dapat mainan baru sambil terus mengutak-atik kata se-puzzle demi puzzle.
“Ehm sebenarnya ada sih, namun sedikit. Dan yang jumlahnya sedikit ini kadang-kadang juga terserang rasa malas, sok sibuk(atau memang sibuk), suka nunda-nunda dan suka menjadikan organisasi sebagai alasan tidak berprestasi dikelasnya. Lamun aktivis ceunah mah, pantang ber-lP tinggi. Tapi yang ini mah masih lumayan. Sebagian besar yang lain mah sabodo teuing,kumaha engkeweh...”Si Teteh menerangkan sebab musababnya dengan jelas sehingga saya mengangguk-angguk.
Ada benarnya juga sih. Soalnya saya yakin anak Unsil teh cerdas-cerdas. Jadi kalau IPK-nya amblas bukan karena mereka tidak cerdas. Namun mereka tidak punya semangat belajar, Mereka tidak punya semangat lebih. Mungkin karena mereka tidak punya cita-cita kali ya. Ataupun ya namun cita-cita tidak setinggi langit sehingga tidak menantang dan nembuat mereka termotivasi untuk belajar lebih cerdas, lebih giat, bekerja lebih smart, lebih-lebih. Atau kalau toh meraka punya cita-cita besar mereka jarang mengingat-ingatnya sehingga kadang kala cita-cita itu menguap terbang entah kemana seperti cendawan di musim hujan,.eh..seperti pungguk meindukan rembulan.
Sejenak kami terdiam, menekuni fikiran masing-masing. Sambil tidak sadar rambut kami bergoyang goyang ditiup angin sepoi-sepoi..
“Jadi apa Teh solusinya?”suara sengau saya merusa kesunyian yang mencekam. Sambil menghela nafas dan membetulkan letak kaca matanya, dalam fikirannya si Teteh terlihat mulai menyusun kalimat dan saya sudah tidak sabar mendengar jawabanya..
“Teuing...” celetuk si Teteh.
Dzig...!! Gubrak..!! “Serius atuh Teh. Sok geura, saya siap mendengar “ kata saya merajuk. Untuk kedua kalinya si Teteh menghela nafas dan membetulkan letak kaca matanya, dalam fikirannya si Teteh terlihat mulai menyusun kalimat “Saya mulai dari kausalitas. Saya yakin semua kekacauan ini (...ceile..) ada kausalnya. Ada sebabnya. Sebab yang pertama adalah minat dan bakat mereka. Minat itu sebenarnya mirip cinta.Artinya kalau kita menyukai atau mencintai apa yang sedang kita kerjakan maka selamanya kita tidak akan terbebani. Malah kita terus berupaya untuk menambah volume pekerjaan kita, semata-mata karena kita ingin terus berada dalam suasana yang kita cintai itu, Contoh: kalau sedang ngobrol dengan orang yang kita cintai kitacenderung berlama-lama dan mengulur-ulurkan? Namun cintabukan masalah mana yang lebih baik,mana yang lebih prestisius. Bukan mana yang lebih cantik, mana yang lebih tampan. Bukan mana lebih kaya, mana lebih miskin. Lebih prospektif mana atau lebih suram yang mana. Cinta itu tidak definitif, Dia terlalu personal, sehingga sangat subjektif malah. Sesuatu yang kita cintai belum tentu orang lain cintai.Saya fikir itu salah satu misteri cinta yang tidak akan terpecahkan selamanya. Dan kalau sudah cinta,apapun akan terjadi. Walaupun badai menghadang misalnya, niscaya kapal akan terus melaju. Dan cinta selalu ada jika ada tangan yang menyambut. Karenanya cinta kita pada ilmu yang sedang kita tekuni itu tidak boleh bertepuk sebelah tangan.
Tangan yang sebelah itu kita namakan bakat. Bakat diartikan sebagai waktu yang kitabutuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan tertentu. Jika kita menyelesaikan suatu pekerjaan dengan waktu yang lebih cepat dan kualitas yang kurang lebih sama atau lebih baik relatif terhadap rata-rata orang lain, makadisitulah bakat kita. Minat yang tidak disertai bakat sama seperti cintaTunggul Ametung pada Ken Dedes. Kasih tak sampai.” cerocos si Teteh tidak putus-putus dengan sangat berapi-api.
Wah ternyata si Teteh dibalik penampilan kalem dan senyum misteriusnya, diamenyimpan bakat jadi penari...eh...maksudnya filsuf, analis dan orator sekaligus. Sebentar dia minum sejenis cairan benwama-wami yang kelihatannya lucu. Kemudian menghela nafas sejenakdan melanjutkan:
“Jadi misalnya kita belajar Teknik kita punya bakat matematikanya tidak? Ada bakat mengulik integral dan rumus-rumus ajaib. Atau kita belajar manajemen? Punya bakat memimpin orang tidak? Punya bakat negosiasi tldak? Kalau belajar akuntansi punya bakat rapi dan teliti menghadapi laporan keuangan yang jelimetdan sophisticated tidak? Karena secara biologis bakat adalah kombinasi unik dari susunan double helix deoxynebuclead acid (DNA) yang berpilin dalam setiap kromosom sel somatis kita, sehingga, kabar buruknya, bakat mustahil diubah, namun kabar baiknya dia bisa dilatih. Kalau engkau merasa tidak mencintai dan berbakat apa yang kau kerjakan hari ini, pilihannya ada dua: 1) Pindah. Karena walaupun pahit secara jangka pendek, secara jangka panjang ini penyembuhan dari luka psikologis yang tiada berujung atau 2) Belajar mencintai. (dalem banget ya). Menurut Stephen Covey, cinta sebenarnya bukan kata benda,dia adalah kata kerja. Mungkin hal terakhir inilah yang sering kita lupakan. Maksud saya,juga ada benarnya kata nenek bahwa terkadang “cintadatang karena terbiasa.”
Yang kedua adalah cita-cita yang besar. Karena cita-cita itu bagian dari tiga kekuatan besar yang akan memompa seluruh energi positif dalam hidup kita. Tiga kekuatan besar itu adalah cinta (seperti yang tadi saya jelaskan), obsesi yang tiada berujung (cita-cita termasuk bab ini) dan kegelisahan (semacam perasaan tidak puas yang tiada berkesudahan yang terus memukul genderang perjuangan yang bertalu-talu dalam jiwa kita). Cita-citaadalah harapan yang besar. Karenanya Shawsank of Redemption menjadi film terbaik keduasepanjang masa versiimdb.com setelah The God father hanya dengan menceritakan perjuangan seorang narapidana yang tidak bersalah untuk berhasil meloloskan diri dari penjara dengan menggali tanah selama dua puluh tahun. Semata-mata untuk menunjukkan bahwa di mukabumi bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari pada cinta,yaitu harapan. Jadi semaikanlah harapan positif dalam jiwa-jiwa kita. Tanamkanlah visi yang jauh kedepan menembus batas dan meloncati ujung-ujung duniamu. Bisa jadi suatu hari nanti kau akan jadi orang besar, mengutip, lagi-lagi, Mankiw dalam buku Mikro-nya”"bahwa Anda akan bangga telah belajar ekonomi dimanapun Anda akan berada dua puluh tahun lagi, apakah itu di kursi goyang di beranda rumah, sebuah ruang direktur atau sebuah kantor di Jakarta”.
Bersambung....
Cinta
Reviewed by Mildisrup
on
January 25, 2019
Rating:
Reviewed by Mildisrup
on
January 25, 2019
Rating:


No comments: